Antara Irlandia dan Brooklyn

Laut. Hanya laut seluas mata memandang. Walau laut tetap sama, tetapi kira-kira, apa yang terlintas di alam pikiran mereka yang memandang ke ujung cakrawala itu puluhan -atau seratusan tahun lalu?

Ada kapal hendak berangkat dari Cobh ke New York. Dan seorang gadis berambut coklat berkilau di bawah terpaan denyar matahari di geladak kapal itu, Eilis Namanya, engan haru, dengan haru memandangi orang-orang di ujung dermaga yang berdiri menengadah dan berusaha menepis perasaan kehilangan Ketika seseorang yang mereka cintai pergi. Di antaranya adalah Rose -kakaknya sendiri, dan ibu mereka.

Beberapa waktu sebelum keberangkatan itu, Rose terenyuh mendapati betapa sedikit pakaian yang akan dibawa adiknya ke Amerika,

“Apa benar hanya ini yang kau miliki?” Kata Rose memandangi isi koper Eilis, “Oh, Eilis, seharusnya aku memperhatikanmu dengan lebih baik.”

“Kaulah yang membelikan hampir semua yang terdapat di dalam koper ini,” jawab Eilis, “Itulah salah satu alasan mengapa aku memutuskan pergi. Karena aku tak mampu membelinya sendiri.”

“Kalau cuma itu, dengan senang hati akan kuhabiskan setiap sen milikku untukmu. Tetapi aku tak mampu membelikanmu masa depan. Aku tak bisa membelikan kehidupan yang kau butuhkan.”

Tetapi bukankah selalu seperti itu? Selain selalu ada kesedihan mengambang dalam setiap perpisahan, bersama cita-cita tentang hari depan yang lebih baik di seberang sana.

***

Di New York, Eilis akan tinggal di Brooklyn. Pastor Flood telah mendapatkannya rumah tinggal di daerah itu, beserta pekerjaan di sebuah toko yang menanti kedatangannya ke Amerika.

Dan begitulah, seperti para perantau pada umumnya, Eilis berusaha menyesuaikan diri dengan Amerika. Memahami teman-teman serumah yang jauh lebih dewasa, induk semang paruh baya yang memegang nilai-nilai tertentu, juga tuntutan lingkungan kerja. Eilis berusaha melalui semuanya dengan tegar demi mimpi-mimpi itu.

Hingga datanglah surat dari kampung. Tentu, bukan surat tentang suatu peristiwa yang memaksa Eilis buat segera pulang. Kakaknya hanya mengabarkan beberapa hal yang berubah setelah keberangkatan Eilis.

“Kami membicarakanmu setiap malam, tentu saja. Kami ingin tahu segalanya. Aku yakin kau sibuk. Tetapi bahkan jika suratmu tertuang dalam dua ratus halaman, itu tak akan cukup panjang untuk ibu.” Demikian kata surat itu.

Pastor Flood akhirnya mengunjungi Eilis untuk melipur rindu gadis itu akibat surat kakaknya. Sampai mendaftarkan Eilis di kelas malam Brooklyn College. Eilies bingung dan berterima kasih. Ketika ia tanya mengapa Pastor Flood begitu baik, Pastor Flood mengaku kalau ia heran orang secerdas Eilis tak mendapat pekerjaan di kampungnya. Maka dari itu, kelas malam tersebut sekiranya dapatlah untuk meningkatkan jenjang karir Eilis.

Pada malam Natal, Eilis hadir dalam acara bakti sosial yang diselenggarakan untuk orang-orang Irlandia yang sudah lama di Amerika. Rerata mereka orang-orang tua.

“Mengapa mereka tidak kembali [ke Irlandia]?” Eilis penasaran.

“Jika di sana tidak ada tempat untuk gadis muda cerdas sepertimu, maka tentu akan lebih sedikit tempat untuk orang-orang tua seperti mereka.”

Pada acara tersebut, seorang dari orang-orang tua itu berkesempatan untuk menyanyikan sebuah lagu Irlandia yang sekali lagi memancing kerinduan Eilis. Semua orang terhenyak dan menitikan air mata. Mereka yang merantau selalu paham bahwa pada hari-hari raya, sesuatu yang jauh seolah-olah memanggil-manggil liris dari seberang lautan.

Tetapi kerinduan melankolis seperti itu sesungguhnya punya obat sendiri bagi para perantau seperti Eilies. Keluarga dan lingkungan hidup baru pelan-pelan menawar perasaan itu, dan tentu saja, seorang kekasih.

Eilies bertemu Maurizio. Seorang pemuda dari keluarga Italia yang -seperti Eilis datang ke Amerika untuk satu hidup yang lebih baik. Eilis dan Maurizio menjalin hubungan dan nyaris happily ever after. Sayangnya, tak ada satu cerita jika semuanya berjalan tanpa hambatan.

Mereka baru saja pulang berlibur dari Coney Island, Ketika tiba-tiba datang sebuah kabar kalau Rose ditemukan ibunya tak bernyawa di kamar tidur mereka di Irlandia sana. Eilis tak kan sempat menghadiri pemakaman kakaknya. Tak pernah diduganya, bahwa perpisahan di ujung dermaga itu adalah kali terakhir ia melihat sang kakak.

“Ketika ayahmu meninggal, Ibu berkata pada diri sendiri kalau Ibu tak boleh terlalu berduka lantaran Ibu masih memiliki kalian berdua. Lalu ketika kau berangkat ke Amerika, Ibu mengatakan hal serupa pada diri sendiri, karena ada Rose yang menemani Ibu di sini. Tetapi kini semua orang telah pergi, Eilis, dan Ibu tak memiliki sesiapa lagi.” Kata Ibu mereka pada ujung percakapan di telepon itu.

Maka, sebagai kekasih yang baik Maurizio menyarankan agar Eilis segera kembali memeriksa keadaan ibunya. Dan mereka berdua pun tahu, di dalam saran itu terdapat satu ketakutan kalau Eilis tak akan kembali ke Amerika.

“Rumah adalah rumah.” Kata Maurizio

Dan Eilis dengan gamang berkata, “Aku tak tahu, masihkah aku memiliki rumah atau tidak.”

“Menikahlah denganku! Menikahlah denganku!” kata Mauruzio suatu malam sebelum keberangkatan Eeilis.

“Apakah sebuah janji tidak cukup?”

“Kalau kau bisa berjanji, kau bisa dengan mudah melakukan [pernikahan] ini.”

Dan seperti kebanyakan pada kisah cinta Amerika yang sering kita dengar. Eilis dan Maurizio kemudian bercinta dahulu sebelum merancang pernikahan rahasia itu. Hanya mereka berdua yang tahu, tak ada orang lain, kecuali Pastor dan beberapa orang Irlandia yang mereka temui di gereja tempat keduanya mengucapkan janji pernikahan.

***

Eilis berencana hanya sebulan di Irlandia. Ibunya juga jadi lebih banyak bicara sejak kedatangan putri bungsunya.

Dan seperti ada semacam upaya untuk mencegah Eilies kembali ke Amerika.

Seorang teman memperkenalkannya dengan pria baik bernama Jim Farrell. Eilis sempat coba menepis kedekatan yang hendak diupayakan Jim. Ia tahu, kalau di seberang Laut Atlantik, ada kehidupan yang menunggunya kembali: seorang suami dan pekerjaan.

Tunggu. Pekerjaan? Entah bagaimana tiba-tiba bekas kantor mendiang kakaknya membutuhkan seorang pengganti yang menguasai pembukuan. Dan Eilis mendapat tawaran itu. Meja kerjanya adalah bekas meja kerja kakaknya. Bahkan masih ada foto Rose di sana. Maka Eilis kemudian mendapat satu alasan untuk tinggal lebih lama di Irlandia.

Kenang-kenangan dan segala hal di kota itu mulai memeluknya kembali. Juga Jim. Yang pelan-pelan menunjukkan gelagat hendak mengajak Eilies ke jenjang yang lebih serius dengan mempertemukan Eilis pada orang tuanya. Sementara di Brooklyn, Maurizio menunggu balasan surat-suratnya yang tak kunjung datang. Hingga ternyata jam telah menunjukkan kalau malam mulai beranjak larut sehingga resensi ini mesti berakhir di sini.

Jika teman-teman hendak mengetahui kisah Eilis, ada baiknya untuk segera saja menonton film tersebut.

sumber gambar: https://www.pinterest.com/pin/206039751682047170/

Namun sebelum benar-benar menyudahi catatan kecil ini, ada beberapa hal yang sesungguhnya ingin penulis refleksikan setelah mengikuti kisah Eilis. Sebab walau laut tetap sama, tetapi kira-kira, apa yang terlintas di alam pikiran mereka yang memandang ke ujung cakrawala itu puluhan -atau seratusan tahun lalu?

“…aku tak mampu membelikanmu masa depan. Aku tak bisa membelikan kehidupan yang kau butuhkan.” Demikian kata Rose.

Betapa nostalgiknya jika kita kenangkan kembali. Pada usia berapa masing-masing dari kita mulai menyadari kalau masa depan adalah pertarungan yang sesungguhnya samar akan dimenangkan oleh siapa?

Sedekat, sepeduli, sesayang, dan secinta apapun seseorang, mereka hanya mampu mendukung pertarungan ini dari luar arena. Bahkan jika mereka memberi setiap sen uang dan setiap inci cintanya -misal kau dapat mengukur cinta atau segala yang mereka miliki, tetapi hari depan selalu menjadi pertanggungjawaban diri sendiri.

Tidak ada yang tahu. Kau bisa menemukan dirimu sebagai Eilis, atau Pastor Flood, atau juga –naudzubillah sebagai salah satu dari Irlandia tua yang digilas zaman dan kenyataan yang datang pada acara bakti sosial Eilis di malam natal itu.

Bahwa dalam diri setiap orang selalu ada kesatuan nilai yang tak henti-henti tarik-menarik sebagai tuntutan yang ‘harus’ sifatnya. Segala yang ‘harus’ itu adalah struktur tak kasat mata yang mengelilingi dan mengiringi hidup seseorang.

Manusia menciptakan sejarah mereka sendiri, tetapi semua itu  tak dapat mereka lakukan sekehendak hati. Tiap keputusan tidak datang dari suatu kebebasan mutlak, melainkan dari pilihan-pilihan terbatas yang diwariskan dan ditransmisikan oleh masa silam. Kira-kira demikian kata seorang filsuf.

Pandangan ini selama berpuluh-puluh tahun menjadi poros perdebatan dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Dari Hegelian hingga Marxian, dari eksistensialis hingga esensialis, sampai kemudian kepada teoritisi macam Giddens coba mengambil jalan tengah dengan teori strukturasi miliknya.

Apapun perdebatan para filsuf, pewarisan dan proses transmisi oleh masa lalu itu dapat diumpamakan sebagai benang-benang yang setiap saat mempengaruhi ritme hidupku, ritme hidupmu, seperti juga mempengaruhi ritme hidup semua orang yang saling tindih-menindih terjalin tanpa disadari.

Sekali waktu jalinan itu menegang hingga kita seolah kehilangan diri sendiri, atau terlampau kendur sampai kita terlena, lengah, dan lupa atas janji kita pada diri sendiri di hari depan.

Dan pada titik itulah Eilis memperlihatkan, hanya dengan jujur dan bersetia pada kata hati saja seseorang bisa selamat dari tarikan suram masa silam dan kesamaran masa depan.

Maka tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Kau ridhoi, dan bukan jalan orang-orang yang Kau murkai. Aamiin ya Rabbal Alamin.[*]

Film

Judul: Brooklyn

Sutradara: John Crowley

Produser: Amanda Posey & Finola Dwyer

Durasi: 112 menit

Pemeran Utama:  Saoirse Ronan, Michael Zegen, Domhnall Gleeson, dkk.

Bacaan:

Jochoms, T., & Rutgers, M. (2005). Coming to Terms with The Complementarity of Agent and Structure. Public Administration Quarterly,29(3/4), 383-412.                http://remote-lib.ui.ac.id:2100/stable/41288240

Marx, Karl. The Eighteenth brumaire of Louis Bonaparte. Moscow: Progress Publishers, 1934.

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *