Arok: dari Tumapel untuk Indonesia

Resensi Arok Dedes

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta Timur

Tahun Terbit: 2009

Tersebutlah seorang pemuda kampung berwangsa Sudra menentang Akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Pemuda itu awalnya dikenal sebagai Temu, kelak gurunya mengganti namanya menjadi Arok. Gerakannya banyak mendapat dukungan dari orang-orang kampong lantaran kepiawaiannya berkawan dan membangun jejaring.

Sementara Tunggul Ametung, orang yang dilawannya itu, terkenal karena sifat perusaknya yang senang mengambil milik orang lain demi memperkaya diri sendiri.

Walau Raja Erlangga telah menghapus perbudakan selama dua ratus tahun, tetapi Tunggul Ametung bersama Raja Kediri Kretajaya menciptakan kembali kasta waisya sehingga melanggar prinsip-prinsip kemuliaan triwangsa.

Belakangan ketahuan, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bahkan mengorganisir terbentuknya sebuah desa budak yang tunduk di bawah kuasanya. Ia tunjuk seorang penanggungjawab yang kemudian diberi gelar Gusti untuk mengawasi desa itu.

Desa budak itulah muasal pundi-pundi emas Tunggul Ametung. Sang Akuwu merahasiakan keberadaan desa budak dan kegiatan tambangnya dari Raja Kretajaya di Kediri. Tujuannya jelas, untuk menimbun kekayaan secara diam-diam.

Bahkan ketika ia terkena denda dari Kediri, Tunggul Ametung tidak menggunakan emas dari tambangnya untuk melunasi denda, ia lebih suka merampok emas di pura penyembah Syiwa –kaum yang menjunjung prinsip triwangsa yang ia langgar.

Tetapi, apa yang paling orang-orang benci dari Tunggul Ametung adalah kesewenang-wenangannya mengambil paksa Dedes, Putri seorang Brahmana terhormat bernama Mpu Parwa, untuk dijadikan istri –paramesywari Tumapel.

Dedes, yang merupakan Brahmani berilmu tinggi bahkan merasa jijik berhadapan dengan Tunggul Ametung yang hanya berasal dari Sudra rendahan itu. Tetapi, apa yang paling dibenci Dedes dari Tunggul Ametung ialah sifat sewenang-wenang yang dilandasi oleh gila kuasa untuk menutupi kegoblokannya sebagai seorang Akuwu.

Untuk semua yang dilakukan Tunggul Ametung itulah, Arok selalu merampok kereta-kereta upeti Tumapel untuk Kediri. Ia dan gerombolannya menyembunyikan emas-emas Tumapel itu dalam gua yang ia persiapkan untuk perlawanan lebih besar.

Arok yakin, untuk mewujudkan sesuatu orang tidak hanya boleh puas dengan berpikir dan berkomentar, menunjukkan perlawanan-perlawanan vulgar yang hanya akan mengakhiri diri sendiri. Arok tidak percaya pada gerakan tanpa strategi jangka panjang. Untuk keberhasilan gerakan itulah, Arok berusaha menerapkan prinsip 4 kaki Nandi: teman, kesetiaan, harta, dan senjata.

Arok tidak bergerak sendiri. Apa yang membuatnya didaulat sebagai pemimpin ialah luasnya wawasan, ketajaman berpikir, dan berani mengeksekusi rencana. Teman-temannya yang paling mula dalam kelompok rampok, segera menjadi orang-orang terpercaya dalam gerakannya melawan Tunggul Ametung.

Selain kualitas-kualitas individu itu, apa yang membuatnya dipercaya oleh kawan-kawannya ialah kesetiaannya pada cita-cita gerakan. Untuk itu, ia tentu harus benar-benar paham masalah pada masyarakat, penyelewengan-penyelewengan penguasa, serta kepentingan semua golongan yang berpusat pada masalah Tunggul Ametung.

Arok juga tidak membatasi jaringannya pada orang-orang kampung yang memiliki keinginan kuat untuk melawan sang Akuwu. Ia memanfaatkan peran tokoh-tokoh politik yang diasingkan oleh penguasa dan kebetulan lekat secara personal dan emosional dengannya.

Arok yang tidak jelas asal-usulnya itu mula-mula diangkat anak oleh seorang bernama Ki Lembung. Pada orang inilah ia belajar bagaimana melihat dalam kegelapan, berkelahi dengan tangan kosong, atau menggunakan tongkat, dan kemudian dengan senjata tajam. Tetapi ia lari dari rumah Ki Lembung karena lalai ketika mengembalakan kerbau.

Sejak lari dari rumah Ki Lembung, mulailah Arok terlibat dalam berbagai kegiatan pencurian dan perampokan, perkelahian dan pertempuran antar kelompok. Hingga suatu hari ia nyaris tertangkap tentara Tumapel dan diselamatkan orang tua angkatnya yang kedua: Ki Bango Samparan.

Ayah angkat barunya ini segera menyadari keistimewaan Arok dari pandangan mata anak itu. Sinar mata Arok membuat Ki Bango Samparan kalau anak yang dipungutnya itu tak lain merupakan putra Hyang Brahma.

Setiap hendak pergi berjudi, Bango Samparan selalu menghampiri Arok dan memeluk anak itu –meminta berkat dari Hyang Brahma. Dan sejak kedatangan Arok, Ki Bango Samparan selalu menang dalam perjudiannya.

Namun, keistimewaan Arok itu justru melahirkan ketidaksukaan di hati anak-anak kandung Ki Bango Samparan. Hanya satu di antara mereka yang menyayangi Arok, bahkan mencintainya. Anak gadis itu bernama Umang, kelak menjadi istri pertama Arok dan menemani sang suami dalam perang melawan Tunggul Ametung.

Menyadari kehadirannya kurang berterima di hati saudara-sudara angkatnya, Arok memutuskan pergi meninggalkan Ki Bango Samparan.

Sejenak sebelum pergi, Ki Bango Samparan berpesan pada Arok untuk pergi menemui seorang guru bernama Tantripala. Dalam perjalanannya Arok menyinggahi sahabatnya bernama Tanca untuk bersama-sama pergi ke perguruan Tantripala.

Di bawah bimbingan Tantripala, Arok dan Tanca menguasai kemampuan baca-tulis dalam Sansekerta –suatu kemampuan yang pada waktu itu hanya dimiliki oleh para Brahmana.

Kecepatan Arok dalam belajar benar-benar tak terkejar. Setelah setahun belajar, Tantripala bahkan tak tahu lagi harus mengajar apa pada anak itu. Hingga suatu hari sang guru memutuskan untuk mengajak Arok ke hutan.

Di hutan itulah Arok menjalani serangkaian proses latihan suatu teknik di bawah pengawasan dan pewarisan langsung Tantripala.

Pertama-tama Arok diajari Darana atau konsentrasi. Kemudian Pratyahara, membebaskan diri dari pengaruh dunia luar. Setelah itu Arok dilatih untuk mengatur napas, atau Pranayama. Hingga akhirnya ia dilatih Ekagrata, teknik memusatkan fokus hingga hanya dilihatnya satu titik saja. Setelah itu semua, Tantripala menggurui Arok mengisi suatu cipta dan karsa pada Ekagratanya.

Kemampuan terakhir inilah yang digunakan Arok untuk menaklukan Dedes dalam sekali pandang. Sampai-sampai sang Brahmani yang bangga akan pengetahuan Agama, Igama, dan Ugama itu bilang kalau Arok tidak pantas berlutut di hadapannya ketika menghadap.

Dedes merasa, seharusnya dirinyalah yang berlutut di hadapan Arok. Betapa kuatnya Ekagrata! Teknik-teknik yang dipelajarinya itulah yang membuat Arok sadar bahwa Tantripala merupakan seorang yang menguasai ilmu Buddha, walau tetap memeluk Hindu.

Setelah Tantripala merasa tak ada lagi yang mampu ia ajarkan pada Arok, diutuslah anak itu untuk berguru pada Dang Hyang Lohgawe. Salah satu guru paling berpengaruh yang memiliki akses politik pada para penganut Syiwa dan Wisnu, dan siapa saja yang berlawan pada Tunggul Ametung dan Raja Kediri Kretajaya.

Baik Tantripala maupun Dang Hyang Lohgawe memang benar-benar tidak suka pada Raja Kediri dan Akuwunya. Tetapi dalam gerakan itu, mereka tahu porsi mereka.

Jalan terbaik memelihara gerakan bukanlah dengan frontal menunjukkan ketidaksukaan pada penguasa ketika kekuatan gerakan hanyalah seujung kuku. Mereka menemukan Arok, memfasilitasi anak itu sembari terus berpura-pura tidak menunjukkan perlawanan apapun.

Arok juga demikian, ia tidak menjauhi Tantripala dan Dang Hyang Lohgawe karena, misalnya, menganggap dua orang pemuka masyarakat itu sebagai hipokrit yang moral perlawanannya mesti dipertanyakan. Ia tahu dan percaya pada posisi dan kapasitas dua gurunya.

Arok sadar fasilitas apa yang diberikan padanya, bagaimana mesti menggunakannya, dan mengarahkannya pada Tunggul Ametung.

Mengapa Arok bisa begitu?

Karena ia tahu bahwa yang dihadapinya adalah orang yang berkuasa secara politik, maka untuk menghadapinya ia juga harus paham betul apa itu politik. Arok paham benar, menafikkan jaringan para guru hanya karena alasan moral perlawanan tak lebih dari sikap kekanak-kanakkan para perampok amatiran, yang hanya ingin terlihat besar dalam pencapaian-pencapaian yang tidak pernah ada.

Dang Hyang Lohgawe jugalah yang melobi pada Tunggul Ametung untuk mengangkat Arok sebagai anggota pasukan Tumapel dengan tugas menumpas perampokan-perampokan di senatero Tumapel.

Jadilah semuanya scenario sempurna untuk menipu sang Akuwu. Lebih jauh, Arok membangun jaringan sampai ke ranjang Tunggul Ametung. Setelah menaklukkan Dedes –Paramesywari Tumapel, istri Tunggul Ametung melalui Ekagrata.

Kemampuan dari gurunya itu bahkan membuat Dedes jatuh cinta pada Arok. Keadaan itu Arok dengan mudah menarik Dedes dalam pusaran perlawanan pada sang Akuwu.

Maka, setelah mengetahui kekuatannya, Arok mulai menganalisa lawan-lawannya. Bukankah dalam politik dan perang posisi, seorang harus mesti paham benar siapa-siapa berada pada pihak di seberang?

Maka Arok menakar kualitas Tunggul Ametung. Ia tahu, lawan utamanya itu hanyalah seorang yang rakus tapi goblok. Kuat, pandai berkelahi, selalu berada di barisan depan pada tiap pertempuran, tetapi buta politik.

Tetapi, jika sang Tunggul Ametung sedemikian bobrok, kenapa ia mampu mempertahankan posisinya sebagai Akuwu Tumapel? Padahal di Tumapel sendiri, Kediri menempatkan seorang utusan untuk mengawasi Tunggul Ametung.

Selidik punya selidik, Arok akhirnya menemukan bahwa Yang Suci Belakangka –sang utusan Kediri untuk Tumapel itu, ternyata sama saja rakusnya dengan sang Akuwu. Segala tindak-tanduk Tunggul Ametung, tak dilaporkan Yang Suci Belakangka pada Raja Kretajaya di Kediri. Posisi politik Belakangka ini dipahami Arok, melalui pembacaannya terhadap posisi Dedes.

Arok bahkan mengerti, Yang Suci Belakangka memiliki niat untuk menjatuhkan Tunggul Ametung setelah ia lelah berperang menghadapi pemberontakan pasukan Arok. Tetapi untuk itu, Arok paham kalau Yang Suci Belakangka tak mungkin memiliki pasukan sendiri, kecuali misalnya ia meminta dari Kediri.

Olehnya, Arok juga paham, pasti, pasti dalam pasukan Tumapel sendiri terdapat orang yang juga memiliki hasrat untuk menjatuhkan Tunggul Ametung.

Didapatkanlah orang itu bernama Kebo Ijo. Seorang tamtama dari wangsa Satria yang tak mampu jadi panglima Tumapel karena Tunggul Ametung, yang Sudra itu, mengangkat anak-anaknya sendiri sebagai panglima.

Tidak berharganya wangsa satria di mata Tunggul Ametung, cukuplah untuk menjadi motif mengapa Kebo Ijo berpotensi untuk memberontak pada Akuwu. Apalagi belakangan, Kebo Ijo dibiayai oleh Yang Suci Belakangka.

Lalu, seorang paling penting yang belakangan disadari Arok adalah Mpu Gandring. Seorang Sudra, pembuat senjata paling handal di seantero Tumapel. Ia pernah diminta Arok untuk menyediakan senjata bagi pasukannya dalam waktu enam bulan.

Namun pada waktu yang dijanjikan, Mpu Gandring pura-pura lupa kalau Arok pernah memesan senjata. Ia bahkan menyangkal Arok telah memberinya sejumlah emas sebagai pembayaran dan modal penyediaan besi.

Mpu Gandring juga cukup cerdas. Kebo Ijo, sebelum menjadi suruhan Yang Suci Belakangka, pertama-tama adalah bagian dari gerakannya sendiri –yang juga berencana menyerang Tumapel setelah Tunggul Ametung lelah menghadapi kelompok perampok.

Selain Kebo Ijo, Mpu Gandring juga memiliki seorang susupan dalam tentara Tumapel yang hampir berhasil mendekati Dedes. Tetapi, belum sampai usaha itu sempurna, Arok memotong jaringan Gandring itu dan melarang Dedes menyampaikan pesan melalui orang yang dekat dengan Gandring.

Hanya melalui suruhan Arok saja komunikasi antara ia dan Dedes dapat dipercaya. Malahan, Arok berhasil memecah kelompok Gandring dengan membuat Kebo Ijo salah mengambil langkah. Hasilnya, adalah terbunuhnya Tunggul Ametung oleh tangan Kebo Ijo.

Maka tanpa membiarkan tangannya diciprati darah, Arok berhasil memenangkan pertempuran dengan menjadikan Kebo Ijo sebagai tersangka yang harus dihukum bersama Mpu Gandring dan Yang Suci Belakangka. Cara ini menjadikan Arok dipandang bersih dari pemberontakan dan dianggap pantas menjadi Akuwu baru bagi Tumapel.

Dalam penobatannya sebagai Akuwu Tumapel, Dang Hyang Lohgawe mengukuhkan gelar Ken di depan nama Arok dan Umang, mengikuti gelaran pada nama Ken Dedes. Orang-orang menghdimati penobatan itu. Dang Hyang Lohgawe kemudian memanggil Arok, Umang, dan Dedes lalu menobatkan Umang dan Dedes sebagai Paramesywari Tumapel yang setara bagi Ken Arok, sang Akuwu Tumapel yang baru.

Roman ini kemudian ditutup oleh timbulnya iri dalam hati Ken Dedes. Ia tidak kecewa atas kematian Tunggul Ametung. Ia malah bersyukur sebab ia mencitai Ken Arok. Walaupun Arok juga berasal dari Sudra, tapi ia melihat suami barunya itu bertangan Satria dan bermata Brahmana.

Namun hatinya gelisah, ketika Tunggul Ametung tewas, ia sedang mengandung anak suami lamanya. Tak lama lagi ia melahirkan. Dan pada saat itu juga Umang diangkat sebagai paramesywari Tumapel sebagaimana dirinya. Dan semua orang tahu kalau Umang juga tengah mengandung anak Arok.

Jika kelak ia telah melahirkan, apakah anak dari rahimnya akan mendapat perhatian Ken Arok seperti anak yang lahir dari rahim Umang? Dan jika tidak, maka betapa sialnya diri Dedes yang seorang Brahmana itu tak memiliki kuasa lebih tinggi dibanding Arok dan Umang yang hanya Sudra.

Walau bagaimana, anaknya harus lebih utama dari anak Umang, sebab pada separuh diri anaknya kelak mengalir darah Brahmana, wangsa tertinggi dan paling dekat dengan para dewa.

Kira-kira demikianlah cara Pramoedya Ananta Toer hendak meneruskan kisah pergolakan politik di Jawa pasca kematian Tunggul Ametung. Sayang sekali, seri kedua setelah Arok Dedes yang berjudul Mata Pusaran itu rusak setelah disita rezim Orba.

Pada seri ketiga yang berjudul Arus Balik, kita hanya menemukan kisah pada bagian akhir keruntuhan Majapahit yang juga jatuh karena ambisi dari Demak untuk jadi penguasa tunggal di Jawa.

Kendati demikian, alur cerita karangan Pramoedya dalam Arok Dedes ini memperlihatkan bagaimana cara berpikir sang penulis terhadap sumber sejarah. Kita dapat berasumsi –walau tinggal hanya asumsi saja bahwa Pramoedya membaca betul Pararaton. Kitab yang menceritakan riwayat Ken Arok dengan alur cerita cukup mirip dengan yang termuat dalam roman Arok Dedes karangan Pramoedya.

Ia kemudian memberikan interpretasi alternatif kalau Ken Arok tidak membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah kris yang dirampasnya dari Mpu Gandring. Kris Mpu Gandring tak lain merupakan simbolisasi dari gerakan Mpu Gandring yang hendak menjatuhkan Tunggul Ametung.

Barangkali dengan cara demikian jugalah kira-kira Pramoedya akan mengisahkan bagaimana Anusapati –anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung membunuh Ken Arok dengan ‘keris’ Mpu Gandring, juga ketika Tohjaya –anak Ken Arok dari Ken Umang membalas untuk membunuh Anusapati juga dengan ‘keris’ yang sama.

Hanya saja, menarik jua melihat bagaimana tokoh Ken Arok yang dalam kitab Pararaton tak lebih dari seorang pencuri diubah Pramoedya dengan menjadikannya pahlawan di dalam roman.

Entah untuk keperluan apa pembalikan itu, bisa jadi karena keperluan cerita, atau memang daya imajinatif sang pengarang, atau malah bisa juga merupakan satu politik wacana. Entahlah. Ia bahkan mengangkat Ken Umang sebagai Paramesywari yang setara dengan Ken Dedes, yang dalam kajian-kajian sejarah dituliskan sebagai selir.

Pramoedya juga memutuskan kalau Ken Arok memang seorang yang tiada jelas ibu dan ayahnya, namun dikaruniai pandangan mata dari Hyang Brahma sehingga ia dicintai orang lain. Pramoedya mungkin mendasarkan interpretasinya dari Praraton yang menyebut Ken Arok selalu dilindungi oleh Dewa Brahma setiap kali mendapat kesulitan.

Bedanya, dalam Praraton nama ibu Ken Arok jelas disebut bernama Ken Endok. Sang ibu digauli Dewa Brahma dan melahirkan Arok. Perlindungan Dewa Brahma pada Ken Arok dalam Pararaton tak dapat dilepaskan dari hubungan ayah-anak antara keduanya. Berbeda pula dengan Negarakertagama yang menyebutkan bahwa Arok itu berayah tetapi tidak memiliki seorang Ibu.

Saking simpang-siurnya tokoh Arok ini, orientalis Belanda bernama C.C Berg sepenuhnya menyangsikan keberadaan tokoh Ken Arok di dunia nyata. Ia menganggap Ken Arok hanyalah tokoh fiksi yang direka-reka oleh Mpu Prapanca selaku pengarang Kitab Pararaton.

Namun anggapan ini juga tidak memiliki landasan kuat jika dihadapkan dengan sejumlah prasasti sezaman yang menyebut tokoh Ken Arok dengan latar belakang yang tidak begitu berbeda.

Suwardono –seorang ahli epigraf Malang, dalam tulisannya berjudul ‘Tafsir Baru Kesejarahan ken Angrok’ mengemukakan bahwa Ken Arok bukanlah tokoh yang tiba-tiba dihadirkan Mpu Prapanca secara tiba-tiba.

Untuk menulis riwayat Ken Arok, Mpu Prapanca mengunjungi seorang bernama Dang Acarya Ratnamsah, seorang pendeta pengawas candi dan silsilah raja yang tinggal di Singasari. Dari pendeta itulah, Mpu Prapanca dikisahkan mengenai riwayat Ken Arok. Namun, dalam penolakannya, Berg tidak mempertimbangkan keterangan Prapanca yang terdapat pada pupuh XXXVIII bait 3 itu.

Dalam karya itu jua Suwardono berpendapat bahwa Ken Arok bukanlah yatim. Ibunya, Endok, tidak dihamili Dewa Brahma. Melainkan oleh pejabat kerajaan Kediri bernama Pangkur. Seorang yang ditugasi oleh Kretajaya untuk memimpin Desa Pangkur –daerah asal ibunya dan tempat kelahiran Arok. Si Pejabat meniduri Ken Endok yang dalam Pararaton dikatakan telah menikah dengan lelaki bernama Gajahpara.

Simpulan Suwardono itu dibangun setelah melihat peran Dewa Brahma dalam Pararaton, di mana sang dewa melindungi Ken Arok tiap kali terpojok dalam aksi-aksi perampokannya, juga tokoh Gajahpara yang tiba-tiba mati setelah berpisah dengan Ken Endok. Ia yakin bahwa Dewa Brahma dalam Praraton –terkait Ken Arok, tak lebih dari personifikasi sifat kekuasaan yang melindungi Arok.

Selain itu, Suwardono juga melihat lebih jauh sistem hukum pada saat itu yang demikian rinci membahas hukuman mati untuk orang yang meniduri perempuan istri orang lain. Nama Pangkur sendiri diyakini Suwardono sebagai nama ayah Ken Arok.

Penamaan desa berdasarkan nama pemimpin yang tinggal di desa tersebut merupakan kebiasaan di Jawa –setidak-tidaknya dalam pandangan Suwardono.

Akhirnya, semua tergantung pembaca, hendak meyakini bahwa Ken Arok adalah pembebas Tumapel dari kesewenang-wenangan Tunggul Ametung melalui intrik politik berdarah tanpa mengotori tangan hingga berhasil merebut posisi lawannya. Atau sebagai perampok yang dilindungi kuasa bapaknya hingga kemudian berhasil menggulingkan Tunggul Ametung dan merebut istrinya.

Apapun itu, Ken Umang, Ken Arok, dan Ken Dedeslah yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa bersama dengan gaya berpolitiknya masing-masing. Sehingga perlulah dipertimbangkan apa persembahan Lentera Dipantara dalam mengantar pembacaan atas roman Arok Dedes karya Pramoedya ini,

“Pada akhirnya roman Arok Dedes menggambarkan kompleksitas peta kudeta politik yang ‘disumbang’ Jawa untuk Indonesia.”[*]

***

Keterangan:

Tulisan ini pertama kali tayang di sebuah blog pribadi penulis di platform medium.com, dengan nama akun ‘Djamak’. Berjudul ‘Arok’

Bacaan Pendukung:

Suwardono. Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok (Pendiri Wangsa Rajasa). Yogyakarta: Penerbit Ombak. 2013.

Sumber Gambar: Goodreads.com

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *