Penulis: erikfathul

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok. Pegiat di Taman Baca Kapo'a.

April 29, 2021 / / Resensi

Secara amatir, saya merasa, etnisitas lebih merupakan perasaan setia dan keterikatan pada satu nilai yang sama, yang mungkin pernah terlembaga ke dalam satu institusi sosial pada komunitas masyarakat tertentu. Nilai-nilai ini, pada kenyataannya masih hidup di dalam benak sebagian masyarakat kendati pun institusi sosialnya telah bubar seturut dengan integrasi NKRI.
Pada titik inilah saya melihat perasaan etnisitas dapat menjadi satu alternatif agar kita dapat tetap waras ketika melihat bagaimana negara -atau dunia- memaksa kita untuk mengakui satu nilai yang sama sementara pada saat bersamaan pejabat dan pemimpinnya berkali-kali dengan nyata menginjak-injak nilai dan landasan-landasan hidup bernegara semacam itu.

April 9, 2021 / / Resensi
Maret 29, 2021 / / Resensi

Kehilangan terbesar ialah ketika Sukarno menarik Ketua Mahkamah Agung Wirjono Prodjodikoro ke dalam kabinet yang menjadikan pucuk pimpinan MA menjalankan fungsi sebagai yudikatif dan eksekutif secara bersamaan. Saat itulah, benih-benih goyahnya independensi yudikatif terlihat. Suatu kelokan dalam sejarah yang membuat kita patutnya tak perlu heran kalau, misal, hari-hari ini kita selalu merasa hukum tumpul ke atas tajam ke bawah.

Februari 26, 2021 / / Film

Untuk apa kita mempertahankan satu bahasa, jika misalnya, kita dihadapkan dengan kemajuan serta keperkasaan negeri-negeri jauh, yang asalnya asing dan pelan-pelan kita terima sembari meninggalkan segala yang pernah kita miliki? Jika pada akhirnya, persoalan bahasa tetaplah persoalan siapa kita, siapa yang kita bela, dan nilai apa yang kita anut, sejauh apa kita berani membayar untuk menebus harga kata-kata?

Oktober 14, 2020 / / Film

“Kau akan merasa sangat merindukan rumah hingga rasanya ingin mati. Dan tidak ada yang bisa kau lakukan selain menanggung semuanya. Kau akan melaluinya, sebab itu tak akan membunuhmu.”

Juli 29, 2020 / / Resensi

Kebudayaan, bahkan pada masa itu, tak pernah berdiri sendiri. Setidak-tidaknya, pada titik tertentu, kita dapat mengatakan bahwa globalisasi bukan sesuatu yang terjadi baru-baru ini. Namun, kebudayan yang membaur tidak serta-merta meleburkan struktur. Itulah alasan mengapa spektrum politik tetap eksis dan menuntut kedaulatan versi mereka masing-masing.

Juli 26, 2020 / / Resensi
Juli 26, 2020 / / Resensi

Sebab, bukankah ini sesungguhnya angan-angan aliran realisme sosialis dalam sastra yang dianut Pramoedya? Agar karya-karyanya memiliki implikasi sosial, agar pembacanya terus belajar. Tidak berhenti pada kutipan-kutipan liris tentang senja dan kopi dengan pembaca merasa jadi orang paling merana di dunia.

Juli 25, 2020 / / Film
Juli 20, 2020 / / Resensi