Bagaimana Rasanya Hidup Abadi?

Resensi film ‘The Man from The Earth’

Direktur: Richard Schenkman

Produser : Emerson Bixby, Eric D. Wilkinson, Richard Schenkman, Steven Alexander

Penulis : Jerome Bixby

Penata Musik : Mark Hinton Stewart

Tanggal Rilis : 13 November 2007

Setelah menjadi guru besar sejarah selama sepuluh tahun dan selangkah lagi menjadi petinggi di departemennya, John Oldman tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dosen sejarah dan memilih pindah ke suatu tempat yang ‘barangkali’ ia pun tak tahu.

Keputusan yang bagi kawan sejawatnya terasa janggal untuk diambil oleh seorang dengan karir secemerlang John.

Beberapa kawan kemudian datang ke rumah John untuk melaksanakan satu acara perpisahan sekaligus menanyakan alasan keputusan John itu. Kawan John yang datang ialah Dan (antropolog), Art (arkeolog), Sandy (asisten John), Edith (literalis Kristen), Harry (ahli biologi), Linda (mahasiswa Art dan John), dan Will Gurber (psikolog).

Mereka semua adalah ahli pada bidangnya, maka ketika John menceritakan alasan kepindahannya yang bagi mereka tak masuk akal itu, mereka semua tampak terjebak pada dua pertanyaan yang sama, 

“Apakah John bercerita sebagaimana adanya ataukah ia hanya sedang mabuk dan menceritakan satu kegilaan yang lain?”

John Oldman, dosen sejarah itu, mengaku adalah seorang Magdalenian yang selama 14.000 tahun ini belum mengalami kematian, sebab sejak usia 35 tubuhnya berhenti mengalami penuaan.

Alasannya melepaskan pekerjaan adalah suatu keharusan baginya untuk pindah setiap sepuluh tahun sekali ketika orang-orang terdekat mulai menyadari bahwa tak ada perubahan fisik berupa penuaan pada tubuh John.

Pengakuan John itu sontak membuat kawan-kawannya mendebat bahwa itu semua tak masuk akal. Sayang sekali semua sangkalan yang mereka beri dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari segi keilmuan masing-masing mampu John jawab dengan logis.

Lebih jauh, John bahkan mengaku sebagai bagian dari sejarah dua agama besar, yakni Buddha dan Kristen.

Ia katakan pada kawan-kawannya kalau ia pernah belajar langsung dari Buddha yang bagi John merupakan manusia paling luar biasa yang dijumpainya selama hidup. Sedangkan dalam sejarah Kristen, John adalah Jesus itu sendiri.

Pada bagian ini, Edith, yang merupakan seorang literalis alkitab yang beriman berusaha menentang cerita John. Baginya apa yang dilakukan John tak lain adalah penistaan terhadap Tuhan dan agama.

John mengatakan pada mereka bahwa ia menceritakan kisah ini tanpa mempedulikan apakah mereka akan percaya atau tidak. John sejak awal telah mengingatkan bahwa cerita semacam ini akan segera dilupakan sebab ditelan ketidakpercayaan.

Di puncak ketegangan yang terjadi setelah Edith menangis sebab tak dapat menyangkal penjelasan akurat John akan isi alkitab yang diyakininya, Will memaksa John untuk berhenti bercerita dan mengaku bahwa apa yang ia ceritakan itu adalah omong kosong belaka.

Melihat kawan-kawannya yang mulai tak nyaman dengan yang ia lakukan, John akhirnya menuruti permintaan Will, mengaku bahwa tak ada kebenaran dari apa yang baru saja ia kisahkan.

John bilang, ide semantap itu ia dapatkan dari pertanyaan-pertanyaan sepele kawan-kawannya sendiri soal burin, manusia goa, lukisan ‘tiruan’ Van Gogh milik John, dan basa-basi tentang wajah John yang tampak tak bertambah tua.

Pada bagian ini kita seolah-olah terjebak pada pertanyaan yang sama dengan kawan-kawan John tadi, “Apakah John bercerita sebagaimana adanya ataukah ia hanya sedang mabuk dan menceritakan satu kegilaan yang lain?”

Namun di akhir cerita, John yang bermaksud meladeni candaan Sandy justru membuat Will percaya bahwa apa yang dikatakan John itu benar adanya, John yang ia tuding telah berbohong itu ternyata sungguh ayahnya sendiri, yang meninggalkan Will dan Nola (ibu Will) ketika Will masih sangat kecil.

Mengetahui itu, Will berusaha menolak kebenaran bahwa John sejak awal tidak berbohong ketika mengatakan telah berusia 14.000 tahun. Kenyataan yang membuat Will tewas seketika akibat serangan jantung di pangkuan John, ayahnya sendiri.

***

Setelah menonton film ini saya seolah-olah dihadapkan kembali dengan pertanyaan-pertanyaan dasar ketika belajar filsafat sejarah dulu: mungkinkah kita mengetahui masa silam itu secara ‘an sich’ atau sebagaimana adanya? Dan jika kita mampu, akan jadi seperti apakah kita dengan pengetahuan sebegitu luas di kepala?

14.000 tahun bukanlah suatu periode singkat dalam sejarah, mengingat para sejarawan cenderung membatasi kisah sejarah yang mereka tulis itu pada satu periode tertentu.

Di Indonesia sendiri, para doktor di bidang ini lebih banyak menulis kejadian dalam rentang beberapa abad saja, itu pun sudah tergolong sebagai sejarah makro yang biasanya memiliki sangat banyak celah untuk dimasuki dan ditulis menggunakan pendekatan microhistory.

Pada satu bagian dalam film ini, John memberikan penjelasan ketika ia ditanyai oleh Linda bahwa apakah umur panjang ini yang membuat John seringkali dinilai oleh mahasiswa-mahasiswanya sebagai seorang dengan pengetahuan amat luas mengenai sejarah.

John berterusterang, dan dalam sikap itu, John memberikan satu eksplanasi mengenai kemungkinan dituliskannya sejarah secara an sich atau sebagaimana adanya. John menjawab,

“No, that mostly based on study. Remember, it’s one man, one place at the time, my solitary view point, about world i knew mostly nothing about.”

Lalu ada pula saat Dan berkata bahwa apa yang John ceritakan tidak cocok dengan dunia yang mereka ketahui, John berkata,

But we know so little, Dan. We know so little.”

Dua kalimat ini memberikan saya satu pemahaman bahwa hanya dengan memiliki entitas yang eksis dalam satu ruang dan waktu saja kita mampu memperoleh status ontologis sebagai manusia, dilengkapi dengan segala ketidaktahuan dalam dirinya.

Lalu apa kaitannya dengan sifat an sich pada historiografi? Bahwa begitulah sejarawan bekerja. Bagaimanapun mereka coba mengumpulkan sumber dari berbagai sudut pandang, pada akhirnya sejarawan akan menulis sejarah berdasarkan sudut pandangnya, yang merupakan sintesa dari beragam sudut pandang tadi.

Pada titik inilah sejarah itu subjektif. Sebab sejarawan, hanyalah seorang manusia, di satu tempat pada suatu waktu, dengan sudut pandangan yang sempit, tentang dunia yang sebagian besar asing baginya. Persis seperti apa yang dikatakan John.

Di sini, satu pertanyaan timbul lagi di kepala saya, “apakah sejarah yang bersifat an sich itu hanya bisa ada dalam proses ‘penyejarahan’ sesuatu? Dan terlepas dari subjektifitas manusia?

Sementara para sejarawan hanyalah seorang konstruktifis yang berusaha memberikan penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa yang menyejarah itu, tetapi pada saat yang sama membunuh an sich sejarah itu sendiri?” –it seems like a fucking dialectic.

Pertanyaan kemudian berlanjut, seperti apakah orang secerdas John belajar banyak hal-hal hebat. John menjelaskan bahwa ia telah memiliki sepuluh gelar, termasuk semua yang hadir di ruangan itu kecuali gelar dalam bidang psikologi.

Meski kemudian kalimat ini akan mengantarkan kita pada satu pandangan bahwa betapa jeniusnya John, ia sendiri menyangkal itu. John memperoleh seluruh gelar itu dalam jangka waktu seratus tujuh puluh tahun, dan atas itu semua John tidak merasa jenius, ia hanya memiliki waktu yang lebih.

Pengetahuan yang ia miliki kemudian akan kembali digilas waktu sehingga pada suatu titik jadi ketinggalan zaman.

Saya menangkap satu ide filosofis yang coba dijelaskan pada adegan itu. Bahwa manusia, setua apapun, sebijaksana apapun, tetaplah manusia biasa. Dan untuk sampai pada satu ‘pengetahuan’, seseorang perlu ‘mengalami’nya sendiri.

Akan tetapi pengetahuan itu juga tak dapat terlepas dari perkembangan sains yang diketahui pada suatu zaman, yang artinya, bahwa seindependen apapun pengetahuan manusia, untuk menjadi sesuatu yang ‘diakui’ kebenarannya, pengetahuan itu butuh masyarakat, dengan kata lain membutuhkan konvensi-konsvensi sosial.

Lebih dalam, kisah yang John jelaskan menyiratkan bahwa meskipun konvensi sosial dibutuhkan. Ilmu pengetahuan berbeda dengan agama. Ilmu pengetahuan membutuhkan dialog antar zaman agar dirinya menjadi aktual.

Agar dia menjadi sesuatu yang layak untuk dipercayai. Sebab kebenaran hakiki, setidaknya bagi saya, adalah sesuatu yang harusnya tahan uji, bukan sesuatu yang justru enggan diuji.

***

Film The Man from Earth pada dasarnya meletakkan kekuatan ceritanya pada dialog antar tokoh di dalamnya. Semua tokoh yang merupakan representasi dari bidang masing-masing seolah menempatkan penonton berada di tengah-tengah diskusi para pakar ilmu pengetahuan.

Saya sendiri bahkan ingin bertanya pada John ketika ia mengaku pernah belajar dari Sang Buddha dan ia sesungguhnya adalah Yesus itu sendiri. Terlebih dalam menguatkan klaimnya bahwa ia adalah Yesus, ia menjelaskan secara singkat bagaimana mitos Nabi Musa dibentuk dalam keyakinan-keyakinan agama samawi.

Perihal yang ingin saya utarakan ialah, “Apakah ia kenal Muhammad? Dan bagaimana pandangannya soal Islam? Apakah menurutnya, Islam juga begitu? Mengadopsi ide-ide dari legenda sekitar untuk kemudian menobatkannya sebagai suatu kebenaran sejarah?”

Selain pada dialog, The Man from Earth juga kaya akan simbol-simbol. Seperti yang saya katakan sebelumnya, semua tokoh, menurut saya, adalah representasi dari bidang ilmu masing-masing.

John, yang mewakili ilmu sejarah memberikan suatu kisah sejarah yang diperkuat oleh ilmu-ilmu lain seperti arkeologi, antropologi, biologi, psikologi, dan filologi (dalam hal ini adalah literalis Kristen), dengan mendapat bantuan dari ilmu-ilmu itulah kita dapat memperoleh keandalan dan keakuratan interpretasi mengenai masa silam.

Misalnya, ketika di awal film sebelum John memulai pertanyaannya soal mungkinkah seorang Cro-Magnon seperti dia hidup selama 14.000 tahun. Terdapat adegan ketika Dan menemukan burin –semacam alat pahat yang biasa digunakan oleh seorang manusia goa zaman magdalenian, dan untuk memperkuat eksplanasi tentang sejarah orang-orang Cro-Magnon, Art (arkeolog) memberikan pemaparan singkat mengenai bagaimana pada zaman magdalenian burin tersebut digunakan. Disusul Dan yang juga secara singkat menjawab pertanyaan Harry soal definisi Magdalenian melalui pendekatan keilmuannya. Berkaitan dengan ini, saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Sartono Kartodirjo,

“Di sini metodologi dalam studi sejarah mau tak mau menuntut penyesuaian agar dapat meningkatkan efektivitasnya. Penyesuaian itu akan terwujud sebagai perbaikan kerangka konseptual dan teoritis sebagai alat analitis. Hal ini dapat dilakukan dengan meminjam pelbagai alat analitis dari ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi, politikologi, dan lain sebagainya.

Sartono Kartodirjo, ‘Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah’, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 3–4. 1992

Simbol lain yang tak luput dari perhatian saya adalah tokoh Edith. Seorang literalis Kristen yang taat, yang bagi saya mewakili mereka yang merasa memiliki iman yang kuat pada agama tertentu.

Ia digambarkan sebagai perempuan tua yang suka sinis pada cerita John, apalagi ketika John mengaku sebagai Yesus, sosok Tuhan dalam agamanya sendiri. Edith selalu berusaha menolak kata-kata John, akan tetapi John seolah-olah memiliki semua jawaban atas penyangkalan Edith.

Dan pada akhirnya, khas, seperti apa yang direpresentasikannya, Edith ingin pulang, enggan mendengarkan kisah John karena menganggap yang diyakininyalah yang paling benar.

Ia coba memberikan satu perlawanan yang berujung pada kegagalan, dan pada akhirnya menganggap John melakukan penistaan (blasphemy). Ia merasa agamanya dinistakan oleh satu pendapat yang tidak mampu ia patahkan. Dengan marah dan napas tertahan, Edith berkata,

“Do you realized how inconsiderately you treating my feeling?” yang artinya kurang lebih “sadarkah kau betapa acuhnya kau memperlakukan perasaanku?”

Dan kemudian segera menukas, “Ya, sama seperti acuhnya kita memperlakukan John.”

Lihat? Betapa itu sangat representatif dengan keadaan negeri ini sekarang.

Meski demikian, sinisme Jerome Bixby –sang penulis naskah soal agama yang ia coba sampaikan melalui film ini selain menjadi satu poin plus atas kritiknya mengenai agama dan keyakinan-keyakinan yang menolak digugat, di sisi lain juga menimbulkan satu kejanggalan pada tokoh John.

Pola pikir John yang sangat materialis-empiris mungkin memang didasarkan pada sifat ilmu sejarah, akan tetapi justru membunuh karakter John sebagai manusia. Entah, meski pada beberapa bagian John mengatakan ia pernah memiliki satu keyakinan, mempunyai kepercayaan-kepercayaan pada banyak hal, dan bahkan kagum terhada Buddha.

Tetapi pola pikir yang dimiliki John, caranya bicara soal keyakinan bagi saya terlalu datar, begitu berbeda ketika berbicara soal fakta-fakta dan pengalamannya di masa lalu.

Mengenai ini, pertanyaan terlintas di kepala saya, apakah dalam kurun waktu 14.000 tahun seorang John tak pernah mengalami semacam kesadaran spiritual? Ataukah si penulis film ini ingin coba menyampaikan bahwa materialis-empiris itu lebih kuat daripada idealis-filosofis?

Jika memang ‘ya’, maka film ini benar-benar tak lebih dari personifikasi ilmu-ilmu sosial, khususnya ilmu sejarah, di mana secara formal akan begitu sulit kita temui ruang untuk keyakinan ataupun hal-hal yang mungkin kita yakini bersifat ‘transendental keilahian’ dalam eksplanasinya.

Sebagai penutup, ingin saya katakan bahwa film ini sangat bagus, masih banyak yang bisa didiskusikan dari film ini, tetapi mengutip sedikit kata-kata John, ini mungkin terlalu luas untuk dibicarakan melalui sudut pandang saya yang sempit ini.’

Saya juga menyarankan film The Man from Earth ini ditonton oleh mereka yang menyenangi forum-forum diskusi, menyukai sejarah, filsafat, dan logika. Juga kepada mereka yang mengaku cinta kepada agamanya.

“We know so little, we know so little.”[*]

***

Keterangan:

Tulisan ini pertama kali tayang di sebuah blog pribadi penulis di platform medium.com, dengan nama akun ‘Djamak’. Berjudul ‘Review The Man from The Earth’.

Sumber gambar: http://www.imdb.com/title/tt0756683/mediaviewer/rm2381812224

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *