Berapa harga kata-kata?

Resensi Film Mal-M0-E: The Secret Mission

Tetapi, memang, berapa harga kata-kata? Untuk apa kita menyusun kamus dari kata-kata yang berceceran dan semula tidak kita anggap penting, merangkai, lantas merayakannya sebagai puisi -atau doa? Untuk apa kita bertanya dan menggunakannya sebagai penanda kehalusan budi dan ketinggian adab?

Untuk apa kita mempertahankan satu bahasa, jika misalnya, kita dihadapkan dengan kemajuan serta keperkasaan negeri-negeri jauh, yang asalnya asing dan pelan-pelan kita terima sembari meninggalkan segala yang pernah kita miliki? Jika pada akhirnya, persoalan bahasa tetaplah persoalan siapa kita, siapa yang kita bela, dan nilai apa yang kita anut, sejauh apa kita berani membayar untuk menebus harga kata-kata?

***

Bayangkan jika kau berada pada posisi Ryoo-Jeong Hwan. Anak seorang Kepala Sekolah ternama yang diakui pemerintah pendudukan. Ketika seluruh negeri telah tunduk di bawah Jepang, kau masih dapat berkuliah ke Manchuria. Dengan priviledge dan kemapanan itu, ketika lulus, kau malah kembali ke negeri asalmu di Korea untuk mendirikan toko buku kecil.

Toko buku itu nyaris bangkrut. Tetapi kau bersikukuh tetap menjalankan toko kecil itu bersama teman-temanmu -beberapa orang di luar sana mungkin menganggap kau gila atau mencibirmu sebagai seorang yang ingin menjadi pahlawan literasi. Tetapi kau lebih gila dari itu.

Sembari menjalankan toko buku megap-megap di hadapan kebangkrutan, kau malah menggantikan seorang kawan yang telah dijebloskan ke penjara sebagai Ketua Perhimpunan Bahasa Korea. Organisasi kalian kian hari kian mengecil. Organisasi kalian bahkan tidak terkesan heroik. Kalian tidak turun ke jalan menyuarakan pemberontakan melawanan penindasan yang disokong oleh kokangan senjata tentara Jepang.

Bayangkan penilaian ayahmu yang menghendaki anaknya untuk memilih jalan yang normal sebagaimana anak-anak pejabat lain: tidak muluk-muluk, lurus, dan memiliki jaminan di masa depan. Apalagi saat itu, Pemerintah Pendudukan Jepang sedang menggalakkan semacam strategi penghancuran kebudayaan untuk menghancurkan semangat nasionalisme Korea.

Siswa-siswa dilarang menggunakan Bahasa Korea di sekolah. Bilamana kedapatan menggunakan bahasa ibu mereka itu, maka mereka akan dipukuli oleh guru-guru mereka. Siswa-siswa sekolahan itu pun, sebagai kaum terdidik dan masa depan bangsa, dipaksa untuk mengganti nama Korea mereka menggunakan nama Jepang sebagai tanda setia pada Kaisar.

Lalu kau melihat semuanya tidak berhenti di sana. Pejabat-pejabat tinggi -termasuk ayahmu, kini menggunakan nama Jepang. Beliau bahkan memilihkan sepotong nama Jepang yang seharusnya membuatmu bangga, tetapi kau malah bertengkar dengan memaki-maki sikap orang tua dan nama Jepang pemberiannya itu. Film-film di bioskop juga mesti berbahasa Jepang.

Film-film yang lulus sensor pun mestilah film-film yang mendukung doktrin Jepang untuk ikut serta dalam Perang Asia Timur Raya. Sementara di loper-loper koran dan toko buku -termasuk toko bukumu, hanya surat kabar dan majalah berbahasa Jepang saja yang boleh beredar. Mereka yang enggan patuh pada aturan ini mesti berhadapan dengan ancaman pembredelan.

Tetapi kau dan teman-temanmu terus saja bekerja menjalankan toko buku kecil itu sembari diam-diam melanjutkan aktivitas Perhimpunan Bahasa Korea di belakang toko buku kalian. Berkali-kali ayahmu mengingatkan dan membujukmu untuk berhenti dari kegiatan yang dapat membahayakan masa depanmu itu. Mengingat, Pemerintah Jepang tidak suka dengan organisasi kecil tidak penting macam kalian.

sumber gambar: https://www.twoohsix.com/2019/01/mal-mo-e-secret-mission-movie-review.html

Lalu, di tengah-tengah gentingnya keadaan, seorang mantan narapidana buta huruf melamar pekerjaan di tempatmu. Seorang anggotamu ialah kerabatnya. Mantan napi itu cepat mengakrabkan diri. Sifatnya yang ceria dan mudah berbaur membuatnya disenangi anggota lain. Tetapi, sebagai ketua dengan tanggung jawab besar, memasukkan orang semacam ini dalam keadaan demikian tentulah merupakan tindakan tidak masuk akal -bahkan cenderung mengarah pada keputusasaan dan bunuh diri organisasi.

Mantan napi itu bernama Kim Pan-Soo. Ia merupakan ayah dua anak yang ditinggal mati istrinya. Ia tak tahu membaca, tidak punya keahlian khusus atau modal berupa uang dan tanah. Ia benar-benar tak memiliki apa-apa selain ketulusan hati untuk menghidupi kedua anaknya melalui kerja serabutan.

Suatu hari, datang sebuah surat ke rumahnya yang mengabarkan kalau putra sulungnya akan dikeluarkan dari sekolah jika ia tak melunasi iuran sekolah. Keadaan terdesak itulah yang membuatnya datang melamar pekerjaan padamu. Tetapi, sekali lagi, kau menimbang-nimbang: bagaimana mungkin seorang pencopet, mantan napi, urakan, suka meludah sembarangan, tidak disiplin dan berpendidikan, akan cocok dengan pekerjaan serius Perhimpunan Bahasa yang bercita-cita coba menyelamatkan kebudayaan?

“Ini bukan pekerjaan main-main!” barangkali demikian kesombongan intelektual membuatmu menilai orang seperti Kim Pan-Soo.

Tetapi mantan napi itu menunjukkan tekad dan kemampuannya. Perlahan-lahan ia mulai belajar membaca. Dan ketika ia telah memasuki semesta huruf dan kata-kata, ia seolah melihat dunia tiba-tiba menjadi lebih luas, menyenangkan, sekaligus merupakan medan perjudian nasib. Ia membaca setiap tulisan yang ia temui di jalan, “Sup sundae, panekuk tahu, hanbok, bodoh,” ejanya terbata-bata.

Ia bahkan menghabiskan semalam suntuk karena iseng-iseng membaca sebuah novel yang asal dicomotnya. Kegiatan itu berakhir dengan derai air mata lantaran ia terserap ke dalam semesta fiksi tersebut. Ia bersimpati pada nasib tokoh utama, dan terkenang akan istrinya dahulu.

Dalam proses pengerjaan kamus di bawah bayang-bayang moncong senapan Jepang, akhirnya kau menyadari betapa tidak adilnya memandang remeh seseorang. Kau memang ketua organisasi Perhimpunan Bahasa Korea, orang terdidik, pandai merancang forum diskusi untuk merumuskan kata-kata baku, sampai taktik-taktik politik untuk menciptakan kemungkinan dan harapan kalau usaha kalian, secara teoritis, akan berakhir sebagaimana diharapkan.

Tetapi tanpa Kim Pan-Soo, semua itu tak kan terwujud. Tanpa ide-ide cemerlang darinya, banyak kendala di lapangan tak kan bisa diselesaikan. Hidupnya yang serba praktis, membuat Kim Pan-Soo mampu memikirkan ide cemerlang untuk mengefesienkan pengumpulan kata-kata dari penutur aslinya: mengundang teman-temannya sesama bramacorah di jalanan.

Kim Pan Soo jugalah yang memperbaiki atap toko buku ketika hujan mulai membasahi buku-buku dalam ruang kerja rahasia kalian. Dan bersama kawan-kawannya, mengoordinir pengalihan tempat diskusi yang telah diketahui Polisi Jepang melalui jaringan mata-matanya.

Tapi hidup Kim Pan-Soo bukan sekadar berkutat pada penderitaan ekonomi saja. Ia memiliki dua orang anak. Ia bekerja untukmu, membantu upaya kalian terkait kebangkitan Bahasa Korea, demi membiayai sekolah putra sulungnya. Tanpa kau tahu, jika guru anaknya itu tahu pekerjaan Kim Pan-Soo, maka ia dengan mudah dapat dikirim ke medan perang di Pasifik.

Berkali-kali anak Kim Pan-Soo itu meminta pada ayahnya agar berhenti. Jika sampai tertangkap, ayahnya dapat dipenjara dan sebagai hukuman tambahan, ia bakal segera dikirim ke medan perang meninggalkan adik perempuannya seorang diri. Keadaan inilah, yang membuat Kim Pan-Soo meminta izin padamu untuk berhenti dari pekerjaan kalian.

Namun, kemampuan bacaan dan kesadaran kolektif membuat batin Kim Pan-Soo bergejolak. Ia akhirnya kembali dan turut berjuang sampai akhir. Sampai organisasi kalian dibubarkan dan hasil kerja kalian berakhir dengan penyitaan karena memang, tidak ada satu pun gerakan kebudayaan, apalagi menentang kekuasaan berakhir tanpa meminta darah dan menimbulkan kompleksitas kesetiaan dan penghianatan.

Pada akhir film, ketika pekik kemerdekaan telah berkumandang di Korea setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Sampailah pesan Kim Pan-Soo pada kedua anaknya,

“… Aku selalu merasa kasihan pada kalian, anak-anak. Fakta bahwa aku adalah ayah kalian, aku sangat menyesal atas kenyataan itu. Akan jauh lebih baik jika kalian memiliki ayah yang berbeda. Tetapi, … ayah sebenarnya tidak begitu yakin tentang … ini, tetapi ketika semua ini dikerjakan untuk kalian, anak-anak, ayah merasa dapat sedikit mengurangi sedikit penyesalan ayah…”

***

Kira-kira demikianlah perjuangan dalam menyusun draf Kamus Besar Bahasa Korea oleh Ryoo Jeong-Hwan, Kim Pan-Soo, dan kawan-kawan di bawah kuasa Jepang. Sesuatu yang mungkin tidak begitu signifikan bagi perkembangan ekonomi Korea di bawah rezim berkuasa.

Film yang berakhir dengan darah dan penjara ini membuat saya bertanya-tanya, “Berapa harga kata-kata? Mengapa ada yang mau mengorbankan masa depan, bahkan hidupnya, hanya demi menyelamatkan apa yang kita anggap sebagai sebuah identitas dan aset kebudayaan? Apa pentingnya bahasa? Mengapa tak tunduk pada Jepang, menerima segala bahasa dan budaya mereka dan mendapatkan jaminan masa depan?

Mengapa harus ada orang-orang -yang seolah kurang kerjaan, mengedepankan rasa peduli terhadap bangsa dan negara mereka, terhadap apa yang diwariskan oleh nenek moyang mereka  sampai sedemikian rupa?

Mungkin dapat saja dengan mudah dijabarkan betapa pentingnya bahasa oleh mereka yang memang berkuliah, bersekolah, dan bergiat pada bidang ilmu budaya. Tetapi bagi mereka yang merasa bahwa kerja-kerja semacam ini hanya buang-buang waktu dengan kecenderungan sekadar ingin terkesan indie dan cari muka, adakah mampu membeli kata-kata dan kebudayaannya yang hilang ditelan hegemoni budaya lain dengan uang dan kekuasaan kecil yang mereka miliki?

Jika Ryoo Jeong-Hwan, Kim Pan-Soo, dan kawan-kawannya, mempertaruhkan masa depan dan nyawanya demi bahasa mereka, maka berapa yang bakal kau tebus demi kata-kata, bahasa, dan identitas budayamu? Ah, bukankah pekerjaan semacam itu tidak masuk akal dan hanya ada dalam cerita para maniak yang bakal segera tertimbun bersama debu-debu sejarah: yang tak pernah kita saksikan, yang tak pernah kita anggap sampai begitu nyata mempengaruhi hidup kita?[*]

Februari, 2021

Film

Judul: Mal-Mo-E: The Secret Mission

Sutradara: Eum Yoo-Na

Durasi: 135 menit

Pemeran Utama:  Yoo Hae-Jin, Yoon Kye-Sang, dkk.

Sumber gambar sampul:

https://www.hancinema.net/hancinema-s-film-review-mal-mo-e-the-secret-mission-126072.html

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok. Pegiat di Taman Baca Kapo'a.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *