Daripada Katak, Saya Ingin Menjadi Penyu

Resensi ‘Hidup di Luar Tempurung’

Penulis: Benedict Anderson

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun Terbit: 2016

Saya sudah pernah membaca buku ini. Waktu kuliah S1 dulu.

Saya ingat kalau waktu itu semangat kami membaca cerita Ben ini bukan didasarkan atas pemahaman bahwa ia seorang Indonesianis kelas wahid, melainkan lebih kepada upaya kami untuk mencari semacam legitimasi moral demi membentuk kelompok di kalangan mahasiswa yang fokus pada aktivitas peningkatan skill baca-tulis-diskusi serta berani iseng-iseng untuk merancang semacam riset kecil-kecilan -seberapa ngawur pun hasilnya.

Ide membentuk kelompok belajar semacam itu, jika tak salah ingat, dilandasi oleh semangat menolak untuk menghabiskan waktu di kampus dengan kegiatan hura-hura yang kurang memberi dampak pada perkembangan ilmu pengetahuan secara substansial, dalam bidang Ilmu Sejarah khususnya.

Selain itu, otobiografi Ben memang sempat menjadi salah satu bacaan yang cukup hits karena merupakan salah satu pelengkap dalam memahami model komparasi dalam historiografi. Perkenalan dengan model komparasi inilah, ditambah dengan beberapa senior yang telah melakukan kontak dengan teman-teman Ilmu Sejarah di luar Makassar dan menceritakan pengalaman mereka, kami akhirnya merasa kalau mahasiswa Ilmu Sejarah juga mesti mengambil peran dalam perkembangan historiografi Sulawesi yang masih begini-begini saja. -bukankah itu memang peran utama mahasiswa?

Sebagian orang mungkin merasa kalau hasrat semacam itu cenderung megaloman, tetapi bukankah setiap upaya paling kecil sekalipun, untuk mendorong perkembangan ilmu pengetahuan agar berguna buat kemanusiaan, selalu berarti satu niat baik yang coba dikerjakan? Wallahualam bisshawab.

Ketika pertama kali menyelesaikan buku ini, saya akhirnya mengerti nasihat seorang guru untuk keluar dari Makassar dan melihat cara belajar mahasiswa di universitas lain yang lebih ajaib. Beliau menyarankan untuk coba mengikuti kegiatan keilmiahan nasional, agar kita bertemu dengan teman-teman yang sama berkecimpung di bidang ini. Tujuannya, agar kita tidak merasa jagoan hanya karena telah pandai bertengkar di kelas atau di gazebo. Agar kita tahu, kalau langit selalu lebih luas daripada senja di Losari. Asseeekkk wkwkwk.

Meskipun pada akhirnya saya banyak mengambil jalan berbeda dari yang telah ditunjukkan oleh guru saya itu, tetapi, toh, sebagian besar keluyuran selama kuliah dulu dipengaruhi oleh semangat dari nasihat beliau ini.

Kendati dampaknya demikian pada kami, mesti dikemukakan kalau buku Ben ini bukan semacam kajian komparasi itu sendiri. Sebagaimana disebut otobiografi, karena di dalamnya Ben Anderson bercerita tentang hidupnya sebagai seorang akademisi. Tentang latar belakang pengalaman dan petualangan yang memungkinkan ia menulis beberapa masterpiece-nya.

Sebagaimana membaca atau mendengar cerita dari para sepuh dan jagoan di bidangnya, membaca otobiografi -juga biografi atau sejarah tokoh, saya kira selalu mampu memperluas cakrawala berpikir generasi baru seperti kita.

Dan seperti itu lah uniknya buku-buku. Membacanya pertama kali, lalu membacanya kedua kali, dan ketiga kali, dan seterusnya, selalu mampu membawa kesan berbeda. Seolah-olah, buku-buku itu sendiri ialah seorang guru yang pelan-pelan memberi kita pemahaman setingkat demi setingkat tergantung seberapa dewasa kita menghadap dan hendak menimba ilmu padanya.

***

Membaca kembali buku Ben ini tiba-tiba mengingatkan saya pada suatu pernyataan seorang kakak tingkat di salah satu akun sosial medianya. Saya lupa bagaimana pastinya, yang jelas ia mengeluhkan betapa sulit hari-hari ini menjawab pertanyaan “kamu orang mana?”.

Jika, misalnya, orang tua saya berasal dari Kaledupa, lalu kemudian mereka pindah ke Baubau dan lahir lah saya di sini. Akhirnya saya tumbuh besar di kota ini hingga tamat SMA untuk kemudian berkuliah dan menghabiskan nyaris enam tahun di Makassar. Kira-kira, apa jawaban yang akan saya berikan jika saya ditanyai, “kamu orang mana?”

Persoalan identitas etnik ini beberapa kali mencuat di Twitter. Seorang Profesor beberapa kali menuliskan komentar pendek yang menekankan kalau etnisitas sudah tidak relevan lagi, termasuk nasionalisme yang -seperti dikatakan Ben hanyalah imajinasi yang rapuh dan cenderung picik.

Riset-riset tentang gen juga sempat viral belakangan. Hasil riset semacam ini seringkali menunjukkan kalau keturunan Arab ternyata memiliki gen yang tidak arab-arab amat. Mungkin begitu juga dengan kawan-kawan etnik Tionghoa. Apalagi mereka yang menyebut diri sebagai ‘pribumi’, riset semacam ini bakal segera memperlihatkan kalau konsep pribumi tak lebih dari konstruksi Pemerintah Hindia-Belanda yang rasis.

Seseorang kemudian dengan bangga menceritakan kalau ia dulu pernah mendapat pertanyaan “kamu orang mana?”. Karena orang tuanya berasal dari dua etnis yang berbeda, demikian pula keempat neneknya, lalu disusul fakta kalau sejak kecil ia sering berpindah dari satu daerah ke daerah lain, maka ia menjawab, “Saya orang dari Bumi Manusia.” Heroik sekali.

Tentu, jika ditilik lebih jauh perkembangan wacana semacam ini sesungguhnya menyimpan agenda positif. Kendati fenomenanya agak acak, tetapi secara kasar dan amatir saya memandang tujuan wacana ini ialah untuk menentang rasisme yang masih mengakar kuat di Indonesia. Poin utama dari wacana ini ialah,

“Darah kita telah demikian tercampur-baur. Terimalah kalau kita ini merupakan bagian dari masyarakat dunia. Bahwa penggolongan manusia berdasarkan ras itu cacat logika karena basis argumennya telah dimentahkan secara ilmiah.”

Bahwa klaim ini benar adanya, saya juga sepakat. Kendati, dalam persoalan yang mengemuka terkait etnisitas, kita seringkali lupa memahami bahwa ras dan etnis adalah dua hal yang berbeda. Ras cenderung sarat dengan pengertian biologis, sementara etnik, dalam KBBI, kendati mengandung makna biologis seperti ‘keturunan’, lebih banyak terkait dengan aspek-aspek sosial semacam sistem sosial, adat, agama, dan bahasa.

Untuk itulah, perasaan afiliasi etnis sesungguhnya mesti dipahami jauh lebih luas ketimbang prasangka geografis dan biologis. Secara amatir, saya merasa, etnisitas lebih merupakan perasaan setia dan keterikatan pada satu nilai yang sama, yang mungkin pernah terlembaga ke dalam satu institusi sosial pada komunitas masyarakat tertentu. Nilai-nilai ini, pada kenyataannya masih hidup di dalam benak sebagian masyarakat kendati pun institusi sosialnya telah bubar seturut dengan integrasi NKRI.

Pada titik inilah saya melihat perasaan etnisitas dapat menjadi satu alternatif agar kita dapat tetap waras ketika melihat bagaimana negara -atau dunia- memaksa kita untuk mengakui satu nilai yang sama sementara pada saat bersamaan pejabat dan pemimpinnya berkali-kali dengan nyata menginjak-injak nilai dan landasan-landasan hidup bernegara semacam itu.

Kau dipaksa mengakui ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ namun menyaksikan Presiden menghadiri pernikahan anak seorang anggota dewan yang dihelat ramai dalam keadaan pandemi, sementara di tempat lain juga menyaksikan pembubaran acara-acara masyarakat kecil dengan tamu yang jauh lebih sedikit dan diadakan di luar ruangan.

Secara administratif dan praktis, kita dapat dengan mudah mengidentifikasi diri berkewarganegaraan apa. Tetapi adakah di antara kita yang sanggup yakin dan percaya pada Pancasila yang sebagai satu sistem filsafat memiliki logika yang koheren, ilmiah, nyata, tidak utopis dan lebih baik dari nilai-nilai luhur yang pernah dilembagakan oleh leluhur kita?

Untuk itulah saya kira, membaca Ben, baik otobiografinya maupun Imagined Communities mesti didasarkan pada kehati-hatian pula, agar kita bisa melihat latar belakang konkrit diri kita, dan tidak merasa menjadi Ben Anderson.

Salah satu bagian menarik dalam otobiografi ini ialah ketika Ben merefleksikan caranya memandang hidup yang banyak dibentuk dari latar belakang keluarga, masa kecil, dan pendidikannya yang demikian heterogen. Ia orang Irlandia, lahir di Tiongkok, mencicipi masa kecil di Amerika, lalu menghabiskan masa remaja di Eton dan Cambridge, Inggris. Setelah lulus, ia bekerja di salah satu universitas terbaik di Amerika dan banyak menghabiskan waktu bertahun-tahun di lapangan ketika menggarap suatu penelitian.

Ben mengatakan kalau latar belakang sosial semacam itulah yang membuatnya mampu berjarak dengan Amerika. Sehingga ia dapat tetap jernih mengkritik negara tempatnya mencari nafkah itu. Setelah itu Ben menjelaskan apa yang ia maksud sebagai ‘katak di dalam tempurung’.

Katak dalam tempurung ialah mereka yang berlama-lama menetap di satu tempat saja, sehingga ia kemudian berpikiran sempit. Mereka yang merasa kalau dunia di dalam tempurung itu sudah mencakup seluruh semesta. Imbasnya, katak-katak ini berpikiran sempit dan picik, ia terjebak dalam kenyamanan tanpa alasan yang jelas. Dengan bangga Ben menyatakan kalau ia tidaklah merupakan golongan katak-katak semacam ini, sebab ia tak pernah tinggal lama di suatu tempat. Ia selalu berpindah, terus berjalan, dan terus belajar.

Sekali lagi itu semua terdengar heroik, memang. Tetapi, toh, tidak semua memiliki keberuntungan seperti Ben Anderson yang memungkinkan ia melalangbuana melihat dunia. Lagipula, seorang sosiolog yang pernah menjadi mahasiswa Ben pernah mengatakan dalam salah satu makalahnya, kalau gurunya itu kadang lebih Jawa daripada Jawa. Ben mengkritik kramanisasi dalam politik Indonesia, tetapi sendirinya memasang wibawa dalam pergaulan dengan mahasiswanya.

Apakah itu sifat bawaan orang Eropa? Tugasnya sebagai dosen? Atau jiplakan dari budaya yang dikritiknya?

Entahlah.

Tetapi sebagai orang yang besar di satu kampung kecil yang dalam skala kelurahan bisa menemukan dua sampai tiga bahasa dan identitas budaya berbeda, saya merasa semua orang bisa meluaskan cakrawala pandang mereka tanpa perlu membuang identitas kebudayaannya. Perluasan cakrawala pandang justru mampu membuat mereka kian mencintai kekayaan budayanya lebih dalam lagi.

Orang yang merasa memiliki banyak identitas dari jalan-jalan dan modal sosial yang memungkinkannya keliling-keliling, kiranya tidaklah patut mengomentari keyakinan dan cara seseorang menghayati hidup yang diilhami dari satu proses pewarisan nilai yang panjang dalam suatu komunitas etnis tertentu. Mungkin Ben tahu batas-batas argumennya, tetapi pembaca dan pengikutnya, seringkali lebih Ben Anderson daripada Ben Anderson.

Lalu, apakah akhirnya tidak adakah semangat yang bisa diambil dari Ben? Dan bahwa adakah Ben terlalu melebih-lebihkan model berpikir komparatif dalam otobiografinya ini?

Saya pikir tidak demikian. Model komparatif bagi saya adalah salah satu cara berpikir yang baik buat terus belajar memahami orang lain dan diri sendiri secara lebih baik. Model berpikir seperti ini, secara tidak langsung mengajarkan kita untuk berani mengkritik diri sendiri.

***

Di Buton, selama berabad-abad berdiri suatu kesultanan yang pernah menjadikan Islam sebagai landasan bernegara. Uniknya, penerapan Islam di wilayah ini tidaklah bercorak tekstual, dan tidak pula bercorak terlampau tasawuf sehingga mengabaikan persoalan-persoalan dalam ranah syariat. Islam diterapkan dengan menjadikan filsafat dan tasawuf sebagai jembatan.

Kesultanan ini kemudian mengintegrasikan diri ke dalam NKRI melalui satu proses integrasi yang masih agak buram sehingga perlu dilakukan penelitian sejarah lebih jauh lagi. Namun, sepanjang hayatnya, Kesultanan ini mendasarkan diri pada satu perundang-undangan yang cukup menunjukkan karakter hukum positif.

Pembukaan Undang-Undang Kesultanan Buton itu berbunyi, “man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu”. Barang siapa telah mengenal dirinya yang sejati, maka sesungguhnya ia telah mengenal Tuhannya yang kekal.

Bagi saya, salah satu cara terbaik dalam upaya mengenal diri sendiri ialah mengenal lingkungan tempat kita bergaul. Di sini, cara berpikir komparatif seperti yang ditawarkan Ben itu menjadi relevan.

Pemahaman ini pula yang membuat saya akhirnya, pada awal-awal pandemi, untuk mengisi kegabutan, iseng-iseng menyusun semacam tulisan kasar tentang perbandingan sistem pemerintahan dan watak politik kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Semoga nanti tulisan itu juga menemukan tempatnya. Aamiin.

Lalu, kendati dulu pernah mengagung-agungkan cara berpikir Ben, saya kini merasa sulit membayangkan, di zaman ketika semua berlesatan demikian cepat, kita menjalani hidup tanpa menjadikan suatu nilai sebagai pegangan. Ketimbang mengilhami Ben dan turut ingin menjadi katak yang -membuang dunianya demi menghirup kebebasan tanpa tahu dari mana ia berasal, saya lebih suka menjadi penyu. Ke mana pun ia berenang menyelam mengarungi samudera, ia selalu dengan bangga membawa rumah yang selalu terbalut sisik indahnya itu.

Jika memang suatu nilai selalu merupakan pilihan. Maka saya ingin memanggul cangkang yang tiap gurat sisiknya ialah nilai-nilai yang sejak dulu telah diajarkan oleh leluhur dan didekati kembali secara ilmiah dan filosofis. Saya merasa, takdir itulah yang menjadikan penyu memiliki semacam raut wajah bijaksana yang misterius.

Untuk alasan inilah, ketika ada yang bertanya, “kamu orang mana?”

Maka walau lahir, besar, dan hidup jauh di negeri orang, saya tak kan pernah ragu tuk menjawab, “Saya orang Buton dari Barata Kahedupa.” [*]

April, 2021.

Catatan akhir:

Sebenarnya ada satu poin penting yang ingin disampaikan pula oleh tulisan ini. Bahwa nilai-nilai kedaerahan berguna menjadi tuntunan dalam menentukan sikap terhadap suatu kenyataan.

Namun perlu diingat, kenyataan tidak bisa dibaca sepenuhnya jika seorang hanya mengandalkan nilai (apalagi tendensinya moral) secara apriori. Maka dari itu, sembari menghayati satu panduan sikap dari nilai-nilai tertentu, sudah sepatutnya kita juga belajar cara membaca kenyataan. Memahami Materialisme Dialektika Historis, misalnya.

Sayang sekali, selain tidak tahu mesti menempatkan poin ini pada bagian mana dalam tulisan di atas, saya juga masih dalam tahap belajar untuk membaca satu kenyataan parsial di masa lalu sehingga merasa belum layak membahas metode berpikir MDH itu sendiri. Untuknya maaf dan terima kasih.

Beberapa Acuan:

Abdul Rahim Yunus, Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19, Jakarta: INIS, 1995

Amartya Sen, Kekerasan dan Identitas, Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2016.

Francis Fukuyama, Identity: the Demand for Dignity and the Politics of Resentment, New York: Farrar, Strauss, and Giroux, 2018.

George Junus Aditjondro, Terlalu Bugis-Sentris Kurang ‘Perancis’, disampaikan di Jakarta dalam acara diskusi buku Manusia Bugis karya Christian Pelras, 2006.

Haliadi-Sadi, Islam Buton dan Buton Islam 1873-1938, Palu: Penerbit Hoga, 2017.

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok. Pegiat di Taman Baca Kapo'a.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *