Satu Puisi Sapardi Menanyakan Tempat Berteduh

Mereka yang pergi tidak seperti mereka yang ditinggalkan.
Orang-orang pergi karena memiliki bayangan tentang hal-hal baru
yang bakal dilaluinya, yang mana di sana tidak ada kenangan
dari kita yang ditinggalkan.
Yang ditinggal hanya dapat berdoa
untuk kebaikan mereka yang pergi. Dan bagi mereka yang ditinggalkan
sebaru apapun sesuatu, selalu ada bayangan dan rasa rindu
untuk mereka yang pada akhirnya
harus pergi untuk mencari masa depannya sendiri."
-Pelabuhan Murhum. 2013.

Di Bawah Langit Makassar

Suatu malam, di bawah langit Makassar dengan awan bergumpal-gumpal yang menahan diri untuk tidak tumpah sebagai hujan itu, kami berdua duduk di antara orang-orang. Khidmat menunggu acara puncak segera dimulai.

Entah, saya agak lupa kapan pastinya. Apa setahun lalu?

Seingat saya, waktu itu saya baru wisuda. Orang tua dan adik bungsu saya datang jauh-jauh dari Baubau ke Makassar untuk menghadiri acara itu. Sudah beberapa hari saya sibuk mengajak mereka berkeliling Makassar. Seringnya di sekitar kampus saja.

Sesungguhnya saya bingung. Di Makassar tidak ada benteng seluas Keraton Buton. Ke pantai seperti Nirwana pun nampakanya harus menyewa perahu ke seberang pulau. Untung saja jadwal wisuda beriringan dengan perhelatan MIWF di Benteng Rotterdam.

Sudah lama saya ingin memperlihatkan acara kebudayaan semacam itu pada adik bungsu saya. Sejak kecil, saya telah memperkenalkannya pada lagu-lagu Ruangbaca, Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit, dan Theory of Discoustic. Tentu, ini bukan sok indie. Kami juga tetap menyukai lagu-lagu dari kelompok musik seperti Dewa, Noah, dan Sheila on 7.

Namun, beberapa lagu dari band indie, nampaknya memang mengandung lirik yang lebih dalam, ketinggian bahasa, dan alunan musik yang memiliki ciri lebih khas. Karena banyak dari mereka kurang terkenal, karya-karyanya nampak tersebar dari satu pendengar ke pendengar lain.

Dan bagi adik saya lagu berjudul ‘Diam-Diam’ dari Ruangbaca merupakan satu yang paling digemarinya. Apalagi setelah tahu bahwa lagu itu merupakan musikalisasi puisi karangan kakak tingkat saya di FIB Unhas.

Jadilah adik saya gemar mendengarkan beragam musikalisasi puisi –atau lagu-lagu dengan lirik yang terkesan puitis. Namun, sampai hari itu, kami berdua belum mengenal kelompok musik AriReda.

Saya mengetahui AriReda dari unggahan Aan Mansyur di Instagram. Semacam surat yang dituliskan Reda pada Ari, bahwa Reda akan tampil di MIWF sekali lagi. Semacam harapan agar dari sorga Ari melihat Reda menyanyikan lagu-lagu mereka.

Seperti Jason Ranti, saya awalnya mengira kalau Ari dan Reda adalah sepasang suami istri. Namun ternyata itu keliru. Mereka adalah sepasang duo folk. Ari memegang gitar dan Reda bertanggunjawab atas vokal.  

Jika tak salah ingat, di  panggung itu Reda mengatakan sempat berhenti menyanyi sesaat setelah Ari berpulang. Namun kini ia coba tampil sekali lagi, hendak meneruskan semangat yang pernah dibangunnya bersama Ari. Walau itu berarti ia harus menyanyi solo sehingga mesti mulai belajar main gitar sebagaimana partnernya memainkan alat musik itu dahulu.

Maka jadilah malam itu. Saya mengajak adik saya ke MIWF untuk menyaksikan penampilan solo Reda.

Ia membuka penampilannya dengan suara bergetar. Entah apa artinya. Dan langit Makassar sesak oleh mendung bergumpal-gumpal. Tak ada yang pulang dan siap berteduh. Semua bergerak mendekati panggung di bawah langit itu.

Dan Reda pun mulai bernyanyi.

Satu demi satu lagu berlalu. Semua terhenyak menginsafi peristiwa itu. Begitu pula kami.

Hingga pada puncaknya, Reda menyanyikan lagu hasil musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Ketika Kau Tak Ada’.

Lagu dibuka  dengan petikan gitar berkombinasi nada rendah yang menguarkan duka. Dan sajak demi sajak terlontar dari Reda dengan  yang menyanyi sambil memejam mata. Suara lirih yang kadang-kadang menjerit itu, seolah memanggil-manggil Ari di alam fana sana. Suasana jadi melankolik sekali, orang-orang tak saling mengenal namun larut dalam kesedihan yang sama.

Lagu –atau puisi itu, bagi saya mengisahkan satu rasa kehilangan amat dalam. Ketika seseorang yang dicintai dengan teramat tulusnya mesti pergi –atau memutuskan untuk pergi. Dan segala hal yang begitu lekat memberontak dari kedalaman pikiran, menjadi sulur-sulur mimpi yang siap memerangkap tidak hanya dalam tidur tetapi juga di alam bangun.

Di setiap kelokan jalan, di emperan toko tempat mungkin kalian pernah menunggu hujan mereda, atau bahkan segala hal tentang dirimu yang telah membaur sehingga seseorang yang amat berarti itu telah melekat sebagai definisi atas diri, tiba-tiba mesti terlepas.

Ketika kau tak ada, masih tajam seru jam dinding itu
jendela tetap seperti matamu
nafas langit pun dalam dan biru, hanya aku yang
menjelma kata, mendidih, menafsirkanmu
 
kau mungkin jalan menikung-nikung itu
yang menjulur dari mimpi, yang kini
mesti kutempuh, sebelum sampai di muaramu
sungguh tiadakah tempat berteduh di sini?
 
kalau tak ada di antara jejeran cemara itu
kepada Siapa meski kucari jejak nafasmu?
magrib begitu deras, ada yang terhempas
tapi ada goresan yang tak akan terkelupas

Berapa kali hujan mesti turun membasuhi jalan untuk menghapus kenangan di tubuhnya yang melengang? Sungguh, tiadakah tempat berteduh di sini?

Aku Ingin Berteduh

Malam itu, setelah acara berakhir dan orang-orang pulang membawa kenangan masing-masing. Saya tanya pada adik saya, “Bagaimana MIWF?”

Dia menjawab dengan senyuman sambil berbinar-binar mengatakan bahwa penampilan Reda benar-benar menakjubkan.

Seperti dirinya, waktu itu mungkin saya masih terlalu muda untuk merasakan kehilangan semacam itu.

Lalu bulan demi bulan berlalu. Saya harus kembali ke Baubau. Mengakhiri petualangan mencari jati diri selama bermahasiswa di Makassar. Rasanya ada perasaan sayang melihat ke belakang. Betapa kota itu, dengan segala kenangan di setiap jalan-jalannya, awannya yang rendah, senjanya yang pelan-pelan terampas, demonstrasi di jalan-jalan, kerusuhan-kerusuhan, pertentangan-pertetangan pendapat dalam memutuskan jalannya organisasi, serta kerja-kerja yang mengiringinya, telah membentuk saya jadi seperti ini.

Bagaimanakah kiranya rasa terima kasih paling patut diberikan pada masa lalu?

Urusan di kampung sedikit lagi rampung. Saya pulang ke Kaledupa, berziarah ke makam leluhur dan dalam doa yang panjang mengisahkan betapa Makassar akhirnya selesai juga, bahwa tujuan selanjutnya adalah Jakarta.

Dan tepat ketika saya menginjakkan kaki di Ibukota untuk siap berpetualang di atasnya, Corona datang melarang semua keluar dari rumah.

Kehilangan tiba-tiba menjadi teman yang akrab sekali. Ada yang kehilangan pekerjaan, kehilangan  teman-teman, sahabat, kekasih atau bahkan kehilangan diri sendiri.

Di televisi, sosial media, dan di mana-mana, kabar yang datang hanyalah jumlah korban yang meningkat dari hari ke hari, keteledoran pemerintah, ekonomi yang kian berada di ujung kebangkrutan, orang-orang meninggal, tenaga ahli meninggal, dan seolah tak boleh ada yang sempat menunjukkan perasaan duka.

Seorang kawan bahkan bercerita bahwa dia diputuskan kekasihnya tepat saat ia kehilangan banyak hal. Kesedihan macam apa yang kira-kira menimpa semua orang? Sementara pada berbagai macam tempat, ada yang tak henti-hentinya meneriakan kebohongan.

Nama-nama mereka yang mati tiba-tiba jadi deretan angka semata –yang juga rasa-rasanya masih selalu coba disembunyikan.

Tapi malam ini, di Jakarta yang sepi, saya melihat langit dari bawah pohon mangga setelah sekali lagi membaca berita Sapardi Djoko Damono telah berpulang ke rahmatullah.

Langit Jakarta yang lebih sering keruh itu seolah-olah ikut bersedih. Belakangan kehilangan terlalu banyak menghampiri, mengingatkan saya pada MIWF ketika dengan suara meninggi Reda memanjatkan doa untuk Ari melalui puisi Sapardi.

Awan menggumpal-gumpal itu tak kunjung menjadi hujan. Tetapi dalam hati semuanya telah, dan menjadi, terlampau deras.

Sungguh tiadakah tempat berteduh di sini?[*]

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *