mendekati buton dengan matematika

“Sulit.”

Kata itu seakan telah menjadi representasi pikiran kita saat mendengar matematika. Seakan telah menjadi refleksi identitas dari ilmu ini. Entah mengapa matematika dianggap sebagai momok yang begitu menakutkan. Bahkan belakangan kita dihebohkan dengan viralnya parodi sebuah lagu dengan penggalan lirik “Matematika ilmu yang mematikan”.

Sadar atau tidak sadar hal-hal ini dapat menjadi technologies of memory (teknologi ingatan) yang akan menjaga kelangsungan ingatan dan mewariskannya dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Sehingga cap matematika sebagai ilmu sulit mematikan sedari dulu hingga nanti akan selalu lestari. Kalau sudah demikian tentu akan berimplikasi pada penurunan minat dalam mempelajari matematika.

Memilukan memang. Sekan-akan matematika tak lebih hanya sekedar fenomen tak bermakana yang dipancangkan pada gugus-gugus perbukitan alam raya. Seakan-akan matematika hanyalah sekedar hamparan brown-dwarf yang bertaburan dijagat semesta. Seakan-akan matematika hanyalah deretan angka-angka, rumus-rumus, simbol-simbol tak berarti dan begitu mistis.

Padahal nyatanya, matematika adalah oasis bagi kemajuan peradaban di masa kini. Kita dapat berkenalan dengan kemahadasyatan teknologi komputer, spektakulernya website, sputnik-explorer tidak lepas dari peran ilmu ini. Lantas mengapa matematika menjadi begitu asing?

Esensinya matematika merupakan proses berpikir yang melibatkan konstruksi, menerapkan abstrak dan menghubungkan jaringan ide-ide secara logis. Ide-ide tersebut seringkali muncul dari kebutuhan dalam pemecahan masalah sains, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.

Ini selaras dengan lampiran Pemendiknas Nomor 22 Tahun 2006 yang menyebutkan bahwa dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Namun kenyataan di lapangan menunjukkan, bahwa pembelajaran matematika di sekolah cenderung terlalu kering, bersifat teoristik dan mekanistik, semu serta kurang kontekstual.

Kenyataan lain yang ditemukan adalah soal-soal yang disajikan pada kebanyakan buku tidak mengaitkan matematika dengan konteks kehidupan peserta didik sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi jauh dari kehidupan peserta didik, dan membuat matematika menjadi asing.

Di sisi lain, pembelajaran matematika selalu dikaitkan dengan proses pendidikan, di mana konsep matematika dan keterampilan hanya diperoleh ketika siswa pergi ke sekolah. Hal ini mengakibatkan pembelajaran yang dipahami siswa hanya berupa konten saja dan cenderung mengabaikan konteksnya.

Padahal pengetahuan matematika juga dapat diperoleh di luar sistem terstruktur seperti di sekolah. Dalam perspektif ini ide-ide matematika seharusnya dapat diterapkan dalam konteks kehidupan sosial maupun kebudayaan. Keterkaitan antara Matematika dan budaya pun sesungguhnya telah dikaji melalui studi ethnomathematics.

Mulai dari sejarah kemunculan suatu teorema matematika hingga simbol-simbol matematika yang diketahui, semuanya memiliki kaitan dengan latar belakang budaya tertentu. Misalnya, angka romawi, angka arab, teorema Pythagoras (Yunani) maupun solusi persamaan kuadrat Al Khwarizmi (Irak).

 Ide-ide matematika telah digunakan di semua budaya pada konteks historis dan kontemporer. Beberapa contoh di antaranya adalah mengintegrasikan konteks etnomatematika dalam kehidupan sehari-hari dari masyarakat Brasil untuk membantu siswa memahami matematika sekaligus memahami komunitas masyarakatnya.

Tak cukup dari situ Uloko dan Imoko mengungkap bahwa keberhasilan Jepang dan Tiongkok dalam pembelajaran matematika tidak lepas dari penerapan pembelajaran etnomatematika. Indonesia sendiri memiliki kekayaan budaya yang penuh warna, oleh karena itu sangat memungkinkan untuk menggali ethnomathematics yang terkandung di dalamnya. Salah satu kebudayaan yang kaya akan unsur-unsur matematik kompleks ialah terletak pada masyarakat Buton Sulawesi Tenggara.

Mengapa Buton?

Bagi sebagian orang, Buton mungkin tak lebih dari satu etnis tertentu, atau satu komunitas pada daerah tertentu yang terdiri dari suatu masyarakat homogen. Realitasnya tidaklah demikian. Sebab, budaya maritim yang mengakar di daerah ini melahirkan masyarakat yang sangat heterogen, baik dari segi etnis maupun kebudayaan.

Dari ujung Barata Kahedupa hingga Barata Muna, dari Ujung Barata Tiworo hingga Barata Kulencusu, masyarakat Buton bahkan memiliki ragam bahasa dan adat yang berbeda satu sama lain. Uniknya, sejak dulu, keberagaman ini telah mengenal satu konsep kenegaraan yang mampu menyatukan perbedaan-perbedaan itu.

Heterogenitas masyarakat Buton tersebut kemudian berimplikasi pada banyaknya tradisi adat yang masih tetap terjaga kelestariannya hingga saat ini. Tentu setiap tradisi adat yang dipertunjukan sangatlah kental dengan nilai-nilai kearifan. Sebabnya, adat dalam masyarakat Buton tidak hanya diartikan sebagai suatu kebiasaan semata, tetapi adat dalam pandangan Buton merupakan syarat kehidupan manusia yang searah dan sebangun dengan esensi ketauhidan, seperti itulah yang diungkapkan oleh budayawan Buton, La Ode Abdul Munafi.

Dari keterangan tersebut bisalah kita maknai bahwa kearifan lokal yang tersimpan dalam tatanan struktural adat Buton berisi gagasan-gagasan dan pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, bernilai baik dan berbudi luhur yang dimiliki, dipedomani, dan dilaksanakan oleh anggota masyarakat.

Nilai-nilai kearifan itu tentu sangat penting hari ini, sebab dapat ditransformasikan menjadi spirit rohaniah pembangunan, kekuatan integritas masyarakat, sekaligus filter terhadap trend globalisasi yang berpotensi menggerus sendi-sendi budaya bangsa. Selain kaya dengan tradisi-tradisi adat tersebut masyarakat Buton juga kaya dengan perwujudan aritstik berupa hasil kebudayaan materil.

Ekspresi artistik atau perwujudan estetika dalam masyarakat Buton terfleksi melalui beragam jenis kesenian, baik yang tradisional maupun kontemporer. Ragam kesenian yang dimaksud meliputi: seni tari, seni musik, seni sastra, seni pencak, seni artsitektur, ukir dan hias serta lagu-lagu rakyat.

Semua kekayaan khazanah budaya itu, rupa-rupanya tidak hanya menyimpan nilai-nilai luhur. Jika diperhatikan lebih jauh, jaring-jaring struktur kebudayaan Buton juga begitu erat dengan beragam konsep matematika.

Ambil contoh kecil, pranata pasali masyarakat Buton, misalnya.

Pasali secara harfiah berarti pemberian pada pesta (upacara adat). Lebih jauh, dalam kerangka pengetahuan masyarakat Buton pasali dimaknai sebagai salah satu bentuk pengejawantahan adat dalam kompleks struktural tubuh kebudayaannya.

Dalam tulisan yang termuat di buku Dinamika Tanah Wolio (2014), La Ode Abdul Munafi menjelaskan bahwa pranata ini mengandung esensi pengakuan dan penghormatan akan nilai-nilai kemanusian, direfleksikan melalui simbol fisikal pasali: kabintingia, kopo-kopo, antona pasali, serta tuturaka (tatacara) penyerahan dan penerimaan oleh aktor yang terlibat dalam prosesi upacara.

Simbol fisikal pasali dipahami sebagai representasi unsur-unsur kedirian manusia. Kabintingia adalah benda serupa talam kecil berbentuk cekung, terbuat dari logam atau kayu, dalam konteks pasali dipandang sebagai personifikasi rahasia perempuan.

Sementara kopo-kopo merupakan personifikasi rahasia laki-laki, yaitu benda serupa mangkuk kecil berbentuk cekung terbuat dari kuningan, di dalamnya diletakan antona pasali yaitu berupa uang dengan jumlah tertentu-merefleksikan rahasia kemanusiaan (rahmat Allah Taala) dan diletakan di atas kabintingia.

Kesatuan kabintingia dan kopo-kopo ini kemudian melambangkan kesatuan rahasia laki-laki dan rahasia perempuan; kesatuan rahman dan rahim, rahmat dan nikmat, jalaali dan jamaali dalam konteks pemahaman rahasia ketauhidan.

Pertautan simbolis keduanya memanifestasikan ungkapan sufistik Buton; poromu yinda asaangu-pogaa yinda koolota (bercampur tiada satu-berpisah tiada antara). Pada prosesi penyerahan pasali juga dilangsukan pada tataran pemahaman seperti itu, dilaksanakan secara hikmat dalam suasana musahidah kepada Tuhan; tapoaangka-angkataka (saling menghormati) sebagaimana poangkatakana (saling menghormatinya) Nurullah dan Nurmuhammad dalam pemahaman sufistik Buton.

Seperti dijelaskan di atas, antona pasali adalah sejumlah uang dengan besaran tertentu. jumlahnya tidak seragam tetapi mempunyai tingkatan-tingkatan tergantung aktor penerima dalam tatanan adat yang bersifat mengikat.

Perbedaan jumlah pasali inilah kemudian dapat dimaknai sebagai bentuk empiris pengetahuan leluhur terhadap konsep matematika (etnomatematika). Sebagaimana diungkapkan oleh Safarudin dalam peneltiannya tahun 2017, menunjukan bahwa bentuk etnomatematika pasali masyarakat Buton mempunyai kesamaan dengan matematika formal di sekolah, yaitu berupa konsep rasio, proporsi dan aritmetika sosial.

Konsep rasio pada pasali berkaitan dengan besaran pasali yang diterima oleh syarana hukumu, masyarakat dan keluarga yang hadir dalam suatu hajatan. Pada  konsep proporsi masyarakat Buton dipakai untuk menetapkan proporsi pasali dari syarana hukumu, masyarakat dan keluarga yang hadir berdasarkan tingkatan jabatannya dalam struktur adat.

Sedangkan konsep aritmetika sosial tradisi pasali dapat ditemukan pada penentuan besaran persentase pasali dari syarana hukumu, masyarakat dan keluarga yang diundang pada perhelatan tersebut. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, baik konsep rasio, proporsi dan aritmetika sosial dalam konteks pasali memiliki subtansi serupa dengan konsep rasio, proporsi, dan aritmetika sosial pada pendidikan formal. Untuk lebih jelasnya mari kita tinjau secara matematis ketiga konsep diatas.

Jika kita akan mengeksplorasi etnomatematika pasali perangkat masjid kalimbo-limbo di mana terdiri atas: Imam dengan besaran pasali 5 see (1 see = Rp 5.000,-), Khatib (4 see), Moji (3 see), dan Tungguna Ganda (2 see). Dari penjabaran ini, jika kita ingin nyatakan besaran pasali yang diperoleh Imam dan Khatib dalam suatu acara hajatan maka kita peroleh rasio 5:4 = 5/4. Begitu pula besaran pasali Imam dan Moji rasionya adalah 5:3 = 5/3 dan seterusnya.

Besaran pasali akan selalu mengacu pada ketetapan ini walau seluruh atau sebagian dari perangkat saja yang menghadiri hajatan. Konsep rasio yang dipakai masyarakat Buton ini sama halnya dengan konsep rasio pada pendidikan formal. Di mana pada pendidikan formal rasio didefinisikan sebagai perbandingan 2 atau lebih besaran dengan satuan yang sama.

Proporsi berarti jumlah / frekuensi dari suatu sifat tertentu dibandingkan dengan seluruh populasi di mana sifat tersebut didapatkan. Dari penjabaran ini hakekatnya masyarakat Buton telah menggunakan konsep proporsi, misalnya proporsi yang diperoleh oleh Imam adalah (5/14)*100%~35,71%.

Sedangkan konsep aritmetika sosial merupakan penerapan dari dasar-dasar perhitungan matematika dalam kehidupan sosial sehari-hari. Penerapan konsep ini pada pasali lebih condong kepada penentuan besaran persentase pasali, misal, besar persentase pasali yang dikeluarkan jika acara hajatan dihadiri sebagian dari perangkat masjid kalimbo-limbo, contohnya.

Berdasarkan kenyataan ini sangatlah mungkin mengintegrasikan budaya Buton dalam pembelajaran matematika. Integrasi dalam skala kecil misalnya dapat dilakukan pada pembuatan soal berbasis kebudayaan yang lebih kontekstual. Sebagai contoh dari pemaparan besaran pasali pada perangkat mesjid kalimbo-limbo sebelumnya dapat kita buat soal sebagai berikut:

Dalam sebulan terakhir Kelurahan Lamangga telah melangsungkan upacara adat sebanyak 4 kali yang dihadiri oleh seluruh perangkat masjid Kelurahan Lamangga. Tentukanlah: a) besar pasali yang dikeluarkan pada acara tersebut, b) rasio pendapatan perangkat masjid Lamangga, c) proporsi pasali yang diterima oleh perangkat masjid Lamangga, d) persentase pasali yang dikeluarkan jika acara tersebut tidak dihadiri oleh Tungguna Ganda masjid Lamangga!

Lebih lanjut integrasi budaya Buton dan matematika dapat ditingkatkan dalam pengembangan pembelajaran matematika yang kreatif. Pembelajaran kreatif sendiri merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif terlibat dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.

Dalam pembelajaran ini, siswa diberi kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai sumber yang relevan dengan topik/konsep/masalah yang sedang dikaji. Eksplorasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi, atau percobaan. Dengan cara ini, konsep tidak ditransfer oleh guru kepada siswa, tetapi dibentuk sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Sehingga berdasarkan hal tersebut integrasi budaya Buton dan matematika dapat dimaknai sebagai matematika yang kontekstual dan kreatif.

Berpikir kreatif yang dikembangkan melalui integrasi matematika dan budaya Buton yang kaya dengan nilai kearifan akan mempunyai ciri yang logis, rasional, imajinatif, dan disertai dengan rasa estetis serta mempunyai napas religius. Pengintegrasian tersebut dalam pendidikan juga dapat bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan siswa dalam mengembangkan warisan budaya sesuai konteks masa kini dengan menggunakan basis keterampilan berpikir kreatif matematis.

Pasali hanyalah satu contoh kecil, masih ada berbagai tatanan budaya Buton yang dapat didekati dengan matematika. Eksistensi empat Barata, empat Matana Sorumba, besaran jawana atau pajak kadie serta limbo yang ada, bentuk benteng, jumlah lawa, struktur pemukiman, bahkan ornamen dan simbol-simbol yang luas tersebar di seantero negeri, semua seharusnya dapat didekati dengan baragam cabang ilmu, termasuk matematika.

Orang bijak berkata; setiap generasi memikul tanggungjawab budaya dan tanggungjawab budaya yang teramat berat adalah menjaga kelestarian warisan budaya itu sendiri. Maka selaku generasi baru pemangku Negeri Khalifatul Khamis, sanggupkah kita mengawal kelestarian warisan budaya tersebut?

Bukankah dalam pembukaan Undang-Undang Martabat Tujuh kita telah diingatkan, Man-arafa nafsahu, faqad-arafa Rabbahu”. Barangsiapa telah mengenal dirinya yang sejati, maka ia telah mengenal Tuhannya yang kekal. Maka ketimbang membid’ah dan mengharamkan sesuatu yang belum dapat kita pahami seutuhnya, bukankah mendekati warisan itu dengan kedalaman ilmu dapat membawa kita sedikit lebih dekat pada pengetahuan tentang siapa diri kita?

Maret, 2021

La Ramdan

Anak Lamangga Atas. Alumnus Unidayan Baubau. Kini menjadi guru matematika di SMPN 4 Buton Tengah, Mawasangka.

Taman Baca Kapoa Written by:

Organsisasi Pembelajar di Baubau. Bergerak-Baca-Tulis-Diskusi agar tak hilang ditelan angin.

2 Comments

  1. Magfirah Maulani
    Maret 5, 2021
    Reply

    “Poromu yinda asaangu-pogaa yinda koolota (bercampur tiada satu-berpisah tiada antara)”

  2. Anto
    Maret 5, 2021
    Reply

    Sebagian orang menganggap bahwa matematika itu hanya ada di sekolah, padahal sejatinya tanpa di sadari dalan kehidupan kita sehari2 kita terus menggunakan matematika bahkan hal terkecil seperti akan memasak sesuatu pun menggunakan matematika. Untuk itu lah menurut ku matematika itu bukan hanya sekedar pelajaran tapi SDH seperti sesuatu yang melekat dalam diri kita.
    Teruntuk penulis, teruslah hasilkan karya2 yang dapat memperkenalkan matematika kepada masyarakat bahwa matematika adalah ilmu yang menarik dan selalu melekat dalam kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *