Modal Budaya dan kesuksesan

Resensi Outliers: Rahasia di Balik Kesuksesan

Penulis: Malcolm Gladwell

Penerbit utama:  Penguin Psychology Books (2008)

Hak cipta terjemahan: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Januari 2018 (Cetakan Kesepuluh)

Outliers merupakan satu dari lima buku karangan Malcom Gladwell yang selalu menjadi best seller di gramedia. Buku psikologi sosial yang coba mengulik rahasia sukses beberapa orang ini cukup ringan untuk di baca.

Terdiri dari 10 bab yang secara umum seolah tidak terkait satu sama lain, setiap ceritanya berdiri sendiri sendiri namun dari kesepuluh cerita tersebut membuat kita paham apa  dan bagaimana orang orang di luar sana bisa menggapai kesuksesan.

Jika kalian pernah mendengar kalimat, “Lingkungan akan mempengaruhi sikapmu,” atau, “Dengan siapa kamu berteman adalah cerminan dirimu,” maka demikianlah apa yang coba dijabarkan Malcolm Gladwell dalam bukunya ini. 

Menurutnya kesuksesan tidak hanya berasal dari diri sendiri atau motivasi  dan perjuangan sendiri. Kesuksesan juga membutuhkan faktor eksternal seperti kapan kita lahir, di mana kita tinggal, kebudayaan anutan kita, bagaimana orangtua, hingga bagaimana kontribusi lingkungan terhadap kemampuan-kemampuan kita.

Pada bagian awal bukunya, Malcolm Gladwell coba menjelaskan apa aitu Outliers. Outliers à out-li-er (noun) adalah sesuatu yang lokasinya jauh atau memiliki kelas yang berbeda dari bagian utama atau bagian lainnya; sebuah pengamatan  statistik yang memiliki nilai berbeda dari contoh lainnya.

Singkatnya,  menurut saya, Outliers adalah mereka yang berbeda dari orang lain.

Pada bagian pendahuluan juga, Malcolm Gladwell membahas Misteri Roseto. Ia coba meninjau bagaimana  di tahun 1950-an orang-orang Roseto, Pennsylvania  dengan  usia 60 tahun ke atas tidak ada yang meninggal karena penyakit serangan jantung. Mereka hanya meninggal karena sudah waktunya tiba saja.

Usia mereka sudah mencapai limitnya sementara saat itu sedang marak-maraknya orang meninggal karena serangan jantung. Inilah contoh dari pengertian outliers di atas: berbeda dengan yang lain.

Alasan orang-orang Roseto tidak memiliki riwayat penyakit jantung ialah karena mereka memiliki kebiasaan saling mengunjungi satu sama lain. Hal ini  bahkan sudah dikatakan oleh  Nabi Muhammad SAW bahwa menyambung silaturahmi merupakan kunci dilapangkannya rezeki dan dipanjangkan umur.

Pada bagian satu, dipaparkan bahwa kesempatan mempengaruhi kesuksesan seseorang. Sama halnya dengan pepatah keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Banyak orang yang mempunyai kesiapan namun jika belum bertemu dengan kesempatan maka itu tidak akan menjadi apa-apa. Begitupun sebaliknya, kesempatan akan berlalu begitu saja jika kita tidak menyiapkan apa-apa.

Seperti yang diungkapkan oleh Malcolm bagaimana pemain hoki  dan pemain olahraga ceko yang lahir pada bulan tertentu lebih sukses secara professional  karena mereka mendapat langkah awal yang lebih besar, sebuah kesempatan yang tidak mungkin diraih oleh dirinya sendiri, dan kesempatan-kesempatan itu  memiliki peranan penting dalam kesuksesan mereka di kemudian hari.

Usia atau kedewasaan menjadi salah satu  tolak ukur seseorang untuk mendapatkan kesempatan menjadi orang sukses. Misal, betapa sering kita melihat syarat penerimaan pekerjaan/beasiswa yang mencantumkan usia, misal belum berusia 25 tahun pada Mei 2021, maka bersyukurlah orang-orang yang lahir pada bulan juni-desember pada tahun 1996, mereka memiliki kesempatan untuk mendaftar pada kesempatan itu,

Kesempatan lainnya  adalah kesempatan bisa belajar atau menekuni hal yang bisa membuat kita menjadi sukses, yakni Kaidah 10.000 jam. The Beatles  diperkirakan telah naik panggung selama 1.200 kali ketika meraka meraih kesuksesannya di tahun 1964. Bill Gates, pendiri Microsoft yang usia muda memanfaatkan kesempatan untuk bisa belajar dengan komputer yang saat itu besarnya bisa seluas ruangan.

Memang Bill Gates tidak lulus dari perguruan tinggi Harvard, dan ini selalu menjadi senjata orang-orang malas, “Tidak usah kuliah, Bill Gates saja bisa kaya dan sukses tanpa kuliah”, oh, Man! Kalian lupa Bill Gates memiliki banyak kesempatan untuk sukses. Ia lahir dari  keluarga kaya, ayahnya seorang pengacara kaya, dan kakeknya merupakan bankir terkemuka dan ia memiliki akses/ kesempatan yang banyak  untuk selalu bisa  dekat dengan komputer. 

Buku ini menunjukan betapa pentingnya suatu kesempatan dalam meraih kesuksesan dilihat dari bab tiga yaitu permasalahan orang jenius. Kita bisa lihat di luaran sana, tidak selamanya orang pintar berakhir sukses. Seperti Crish Langan, laki-laki dengan IQ 195 berakhir tidak menjadi apa-apa karena dia lahir dari keluarga miskin yang hanya tinggal di perkarangan kuda, hanya memiliki satu stel baju saja.

Ah, sudah menjadi rahasia umum di Indonesia  anak pintar hampir akan selalu kalah dengan anak-anak orang kaya yang punya orang dalam dan dekat dengan kekuasaan. Orang dalam dan kuasa ini adalah sebuah kesempatan yang tidak dimiliki oleh anak miskin dan sebagaimana juga yang dialami oleh Chris Langan, dia orang jenius yang tidak berjumpa dengan kesempatan hidup  yang baik, ia tidak pernah mendapatkan bantuan seperti orang lain dapatkan dalam hidupnya.

Kesuksesan tidak didapatkan secara acak. Ia membutuhkan serangkaian kesempatan dan keadaan yang tepat. Sebagaimana dialami oleh pengacara-pengacara Amerika keturunan Yahudi yang merupakan produksi dari palung demografi, yang  saat itu orang bisa masuk ke sekolah  negeri New York terbaik dan mendapat kesempatan paling mudah untuk memasuki dunia kerja.

Kesuksesan bisa juga tercipta dari kebudayaan, generasi dan sejarah keluarga mereka yang memberikan berbagai kesempatan luar biasa sehingga mereka bisa menguatkan diri untuk bisa menjadi sukses.

Warisan budaya tentu menjadi salah satu faktor terbesar dari sebuah kesuksesan seseorang. Lihat bagaimana kita di Indonesia menakuti atau segan terhadap seseorang karena dia berasal dari suku tertentu. Lihat pula betapa mudah kita merasa mampu memetakan suku-suku tertentu yang hebat dalam bidang tertentu.

Malcolm memaparkan persoalan ini lebih jauh dalam satu bab berjudul, “Harlan, Kentucky – Matilah dengan Jantan, Seperti Kakakmu”. Warisan budaya sangat mempengaruhi sisi psikologis sesorang yang berdampak pada pola pikir dan tingkah perilaku, namanya juga warisan budaya, akan tertanam, terus tumbuh dari generasi ke generasi selanjutnya. 

Mungkin seperti ini contohnya, Orang Buton tetap Orang Buton walau lahir dan besar di Amerika, di sana ada  darah yang deras mengalir juga sifat  yang sudah tercetak biru dalam gen. Sebagaimana  orang-orang Harlan tetap menjadi seperti orang Harlan walau sudah berjarak abad dan di daerah yang berbeda.

Di halaman 198 Malcolm Gladwell menyatakan bahwa di mana kita dilahirkan, apa perkerjaan orangtua kita, di situasi seperti apa kita besar  yang membuat kita mencolok berbeda dalam kehidupan kita jalani. Namun hal ini juga dipengaruhi oleh tradisi dan sikap yang di wariskan oleh leluhur kita sebelumnya.

Pada dunia penerbangan Korea, diketahui bahwa masyarakat korea sangat menjunjung tinggi budaya menghargai atau menghormati orang yang memiliki jabatan sosial lebih tinggi. Kita pasti pernah nonton K-Drama di mana saat pesta kantor, bawahan selalu minum dengan cara agak menyerongkan badan dari atasan mereka. Ini merupakan budaya yang memelihara jarak sosial dalam masyarakat.

Ini bahkan terjadi dalam kokpit pesawat,  bagaimana first officer tidak berani atau tidak tegas menyampaikan bahwa sang kapten melakukan kesalahan, Meskipun fatal sekali, adanya kesenjangan kekuasaan yang membudaya di korea membuat fenomena semacam itu mungkin untuk terjadi. Olehnya, Ratwatte melakukan perubahan dengan memasukan orang barat ke dalam sistem penerbangan Korea,  agar jumlah kecelakaan pesawat terbang berkurang,  juga mengikis kesenjangan kekuasan di dalam kokpit pesawat.

Malcolm bahkan memandang orang Cina yang pandai matematika memiliki keterkaitan dengan budaya leluhur mereka yang dekat dengan budaya menanam padi. Orang-orang yang memiliki ketekunan pasti pintar dalam perhitungan, dan menanam padi adalah pekerjaan bertani yang sangat membutuhkan ketelitian dan ketekunan. Petani padi harus memperhitungkan jumlah air yang masuk ke dalam sawah mereka, harus memperkirakan kondisi tanah yang tepat, mereka harus rajin mencabuti ilalang yang tumbuh di sekitar padi.

“Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum fajar selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun yang tidak mampu membuat keluarganya kaya raya” toh memang kenyataanya petani padi selalu yang kaya raya di kampung, apalagi yang memiliki banyak sawah.  

Jika di lihat dari Negara pemenang olimpiade Matematika, tentu jawabannya adalah Singapura, Korea Selatan, Cina (Taiwan), Hongkong dan Jepang, tentu hal ini di karenakan kesamaan kebudayaan yang dibentuk dari tradisi pertanian mereka. Indonesia pun  memiliki Jerome Pollin dan orang orang lainnya yang memiliki kemampuan mumpuni dalam bidang matematika.

Dari sepuluh bab termasuk epilog, Malcolm Gladwell menyatakan bahwa kesuksesan bukan hanya karena usaha sendiri saja namun kita berhutang dari orang-orang terdahulu dan segala keuntungan dan kesempatan yang mereka wariskan pada kita. Tidak ada orang yang benar-benar memulai hidup dan cerita kesuksesannya dari nol, kita memiliki modal budaya yang terkadang tidak disadari.

Sukses adalah ketika keberuntungan, kesempatan bertemu dengan kesiapan. Maka siapkanlah dirimu, kita tidak tahu pada kesempatan mana kita bisa sukses. Semangat! Jangan menyerah! Dan pandai-pandailah membangun relasimu sendiri. Jika bukan padamu, barangkali generasi setelahmu akan berutang atas sikap dan pilihanmu hari ini.

Untuk merasakan feel yang lebih mendalam tentang apa itu sukses, saya sangat merokendasikan teman teman untuk baca buku Outliers ini. Bahasa yang ringan kita seolah terbawa oleh satu refleksi atas kebudayaan kita, terutama pada part Teori Etnik mengenai Jatuhnya Pesawat Terbang.

Selamat membaca.

Februari, 2021

Purnama.sp

Alumnus Pendidikan Kimia 2014, Universitas Haluoleo. Pegiat di Taman Baca Kapo’a

Taman Baca Kapoa Written by:

Organsisasi Pembelajar di Baubau. Bergerak-Baca-Tulis-Diskusi agar tak hilang ditelan angin.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *