Nirwana yang Kehilangan Nirwana

Aktivitas wisata merupakan satu di antara sekian banyak cara menikmati waktu senggang semasa libur. Kota Baubau sendiri memiliki destinasi wisata andalan, yakni Pantai Nirwana. Nama yang diambil dari satu sebutan untuk menggambarkan surga: laut bening, pasir putih, tenang ombak, dan nyiur melambai-lambai di sepanjang pesisir. Namun, belakangan ini nama seolah tinggal nama. Putih pasirnya dipenuhi sampah plastik yang seolah selama ini tertampung di dalam lautan luas.

Dan fenomena ini tidak hanya terjadi di pantai itu. Di sepanjang bibir Pantai Kamali sampai Pelabuhan Feri Batulo, dapat kita saksikan sampah-sampah berserakan di atas laut bertebaran persis bunga-bunga di langit Bikini Bottom. Itu baru yang nampak di permukaan belum lagi yang sudah tenggelam sampai di dasar. Entah itu sumbangan dari orang-orang yang duduk di pinggir laut menikmati sepoi angin, atau orang-orang di kapal yang sandar di pelabuhan. Pendeknya, kota ini seolah mulai hidup dalam bayang gerayang sampah-sampah pada biru lautnya.

***

Jelang pertengahan tahun lalu kita dihebohkan dengan sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi, paling tidak dalam kurun waktu 10 tahun terakhir: munculnya langit biru di ibukota pada pertengahan April 2020 lalu. Langit yang biasanya abu-abu karena asap industri dan kendaraan menjadi begitu cerah dan begitu biru, sampai puncak Gunung Salak dan Gunung Gede di Jawa Barat bisa terlihat jelas dari kawasan Jl. MT Haryono, Jakarta Selatan.

Fenomena langit biru di Ibu Kota ini bisa terjadi karena anjuran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan WFH (Work From Home) yang diterapkan selama pandemi Covid -19 di Indonesia. Olehnya banyak pabrik-pabrik yang menjadi sumber polusi lingkungan sempat berhenti beroperasi -atau paling tidak mengurangi jam operasional. Kendaraan-kendaraan yang biasanya mengiasi jalan-jalan ibukota terparkir rapi di rumah karena pemiliknya saat itu mesti bekerja dari rumah.

Berbeda dengan Jakarta, langit biru, sejuk udara, dan terik matahari, merupakan sesuatu yang hampir setiap hari dapat kita nikmati di kota ini. Mungkin karena jumlah pohon masih melimpah, sedikitnya pabrik industri, dan kendaran yang belum begitu padat memenuhi lengan jalan-jalan kota ini. Akhirnya, kita sejak dulu memahami kalau langit memang mesti berwarna biru, sehingga tak perlu kaget dan heboh jika langit berwarna demikian.

Namun, tanpa kita sadari, apa yang terjadi di Jakarta dan di sini memiliki satu keterkaitan penting dalam skala global. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, menebang pohon, penggalian tambang, pembangunan ugal-ugalan, dan semua jenis pengrusakan alam terus terjadi di mana-mana. Kota ini pun, pelan tapi pasti mulai menunjukkan gejala yang sama ke arah sana. Dan ini tidak hanya berdampak pada tempat wisata yang kita banggakan, tetapi juga merusak lingkungan tempat kita tinggal.

Lalu apakah kita harus menunggu sampai kota ini tiba-tiba menjadi Jakarta untuk kemudian menyadari semua itu? Dalam bukunya berjudul Dunia Anna (2013), Jostein Gaarder menjelaskan bahwa ribuan, bahkan mungkin ratusan ribu spesies flora dan fauna terancam hanya karena berbagai ekosistem utamanya telah menyusut habis, tidak terkecuali  oleh perubahan iklim akibat ulah manusia. Kita harus berani mengakui ini secara sadar, kalau satu penyebab utama penyusutan ekosistem itu ialah pengrusakan alam yang kita lakukan.

Jika pola ini terus bertahan, maka bukan mustahil jika dua atau tiga generasi ke depan kita akan kehilangan semua spesies flora dan fauna. Jika kita tidak mengubah cara kita memandang lingkungan sekitar, kita akan lupa bagaimana bentuk rapo-rapo atau tentram kicau burung gereja di pagi hari. Pohon dan kicau itu, boleh jadi kelak akan diganti gedung tinggi dan kebisingan mesin kendaraan yang berlalu-lalang tanpa henti.

Gaarder mengisahkan pada tahun 2082, setiap kali ada spesies mati, maka akan muncul pemberitahuan pada alat kecilnya -mungkin seperti pesan pemberitahuan di gawai. Sedangkan spesies yang tersisa dan sudah hampir punah akan dibawa berkeliling dunia untuk menjadi objek pameran. Dengan semua permasalahan iklim yang terjadi dan kepunahan sebagian penduduk bumi, gambaran Gaarder itu terkesan mustahil bagi kita yang hidup saat ini.

Namun, bukankah kita pernah mendengar kisah orang tua kita tentang anoa dan perburuan rusa? Walau harus kita akui begitu sulitnya kisah-kisah itu kita pahami saat ini, karena semuanya hanya dapat kita saksikan dalam imajinasi. Anoa dan rusa tidak mampu bertahan menghadapi derap langkah pembanungan. Di kota ini, habitat mereka terus menyusut dan secara signifikan.

Persoalannya ialah semua ini seolah terjadi secara alamiah. Kita, manusia sebagai makhluk yang terus berkembang akan berusaha untuk terus bertahan dalam belantara kehidupan. Sejak berburu-meramu hingga kini revolusi industri 5.0. Semuanya selalu menunjukkan manusia sebagai pemenang dalam pola-pola pertarungan manusia dengan alam.

Faktor yang mungkin menjadikan kita pemenang itu ialah karena kita memiliki kesadaran universal sebagai buah dari revolusi kognitif beberapa millennium yang lalu. Namun, dengan kesadaran universal itu pula kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian kehidupan di seluruh alam -atau bahkan kosmik ini. Berkah itulah yang menjadikan kita amir atau khalifah di muka bumi. Maka, atasnya pula kita kelak akan dimintai pertanggunjawaban.

Di Baubau sendiri, lembaga-lembaga swadaya masyarakat mulai bermunculan untuk mengampanyekan dan mengawal pelestarian alam dan lingkungan. Gaarder juga menyebut soal gerakan seperti ini, karena kerja-kerja pelestarian memang menuntut kerjasama semua elemen yang ada.

Pelestarian alam bukan berarti memilih antara alam atau peradaban manusia, seolah-olah kita mesti memilih kembali ke zaman batu, tinggal di goa, dan kembali berburu. Kita tidak menginginkan suatu kemunduran peradaban, kita hanya mesti mulai bersama-sama memikirkan penanggulangan berbagai persoalan yang ada. Tentu, dengan berfokus pada posisi kita yang selalu menjadi katalisator semua kehancuran yang ada.

Nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur kita telah mengajarkan tata kelola alam dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Tinggal bagaimana kita kembali berpegang pada kekayaan itu dan menginterpretasikannya pada kehidupan modern hari ini.

Dengan semua kesadaran yang kita miliki, masihkah kita mampu membayangkan Nirwana tanpa sampah, Nirwana yang sebening kaca, Nirwana yang nirwana? Tanpa ikut berperan aktif dalam membentuk kesadaran akan pentingnya pembangunan yang memperlihatkan pelestarian alam atau mungkin perilaku yang lebih sayang dengan lingkungan kita, maka munculnya laut dan langit biru di Baubau kelak akan menjadi sesuatu yang saking langkanya akan sangat dinanti-nantikan anak cucu kita kelak. [*]

Januari, 2021.

La Faris

Anak Lamangga Atas. Alumnus Farmasi UIN Alauddin Makassar. Sedang mengabdikan diri di Puskesmas Bone, di pelosok Muna.

Taman Baca Kapoa Written by:

Organsisasi Pembelajar di Baubau. Bergerak-Baca-Tulis-Diskusi agar tak hilang ditelan angin.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *