Saladin: Riwayat, Agama, dan Kepemimpinan Islam

Resensi Saladin: The Life, The Legend, and The Islamic Empire

Penulis: John Man

Penerbit: Corgi Books

Tahun Terbit: 2016

‘morale is a state of mind’,  which must be created on three level: 
Spiritual, intellectual, material.
‘Spiritual’ … referring not to religious fervour, but to believe in a ‘great noble and cause’, 
that must be tackled at once by aggression,  by every man, each of whom must feel his actions have direct bearing on the outcome. 
Intellectually, they must feel that the object is attainable,  that their group efficient,  and that their leaders are to be trusted. 
… materially, with the tools for the job, in both weapons and conditions.
-John Man, Saladin, p. 328-329

Kita cenderung tak menyukai apa yang tak kita kenal.

Atau, kita tak akan menyukai apa yang kita pikir kita kenal namun sesungguhnya tak begitu kita kenal. Seperti agama, pada hari-hari belakangan ini.

Semasa kecil, kita pernah begitu terinspirasi oleh kisah-kisah akan mukjizat. Kita menyimak bagaimana Daud melunakkan besi, Ibrahim tak termakan api, Musa membelah laut, kefasihan kata-kata bayi bernama Isa, dan memancarnya air dari sela-sela jemari Muhammad.

Sejak Sekolah Dasar, sampai semester-semester awal di universitas, kisah tentang agama tak jauh-jauh dari mukjizat. Atau kualitas-kualitas pribadi yang selalu tak mempedulikan dunia demi menegakkan aturan Tuhan.

Kisah-kisah, yang mungkin, membuat sebagian kita bertanya, “untuk apa semua mukjizat itu?” toh, pada akhirnya kita bukanlah nabi dengan keajabian-keajaiban.

Hari ini, mukjizat tak lebih dari sekadar cerita fantasi yang mungkin mengandung sedikit kebenaran setelah dibumbui dengan begitu banyak kiasan dan khayalan.

Sementara beban hidup terasa semakin nyata, sejauh apa kita membutuhkan agama yang hanya membicarakan hal-hal tak relevan, yang seringkali bising sehingga terasa amat memuakkan?

***

Sembilan ratus tahun lalu. Dunia rasanya bergolak penuh misteri.

Di beberapa sudut Timur Tengah berdiri kuil-kuil megah dari masa lalu. Ragam kebudayaan bercampur dan berbaur di sana. Saling melengkapi, untuk kemudian memancarkan warna-warni adat dan tradisi.

Tak pernah ada yang sungguh-sungguh runtuh ditelan zaman, sebab peninggalan-peninggalan itu tak henti diperbarui oleh peradaban yang berjaya dan meredup silih berganti, sejak Makedonia, Yunani, Romawi, Arab, juga oleh aktifitas bumi itu sendiri.

Dan dengan segala perbedaan adat resam negeri masing-masing, dari Hindu Kush sampai Spanyol Selatan, orang-orang menyembah Tuhan yang sama, mengikuti satu nabi, dan menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pergaulan sehari-hari yang dibaluti dengan pancaran semangat intelektual.

Orang Islam, ketika itu, teramat lapar dan haus akan kegiatan belajar dan menuntut ilmu.

Kertas-kertas mulai menggantikan papirus, orang-orang kaya membuat perpustakaan di rumah-rumah mereka, kaligrafi menjadi seni yang populer dan sangat digemari, karya-karya sastra dan filsafat Yunani mulai diterjemahkan untuk memahami dasar-dasar sains. Dan dengan itu semua, orang-orang Islam tak ragu mempelajari keyakinan-keyakinan lain dari orang Persia, Suriah, Kristen, Zoroaster, bahkan juga mengenai orang-orang yang menulis dalam bahasa Sansekerta.

Peradaban semacam itulah yang melahirkan orang-orang besar semacam Ibnu Sina –pengarang dua ratus buku dan ensiklopedia medis yang menjadi pegangan wajib ilmuan Eropa selama lima ratus tahun sebelum Eropa mengalami Renaisans. Islam menjadi altar ilmu bagi filsafat, sains, sastra, dan seni.

Tetapi bagaimana mungkin?

Tentu karena pada masa itu, iman tak dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Kaum Muslim meyakini tak ada yang salah dengan coba memahami dunia bekerja di bawah kuasa Allah.

Kendati demikian, tak ada kebudayaan yang benar-benar bersih dari penderitaan dan kemerosotan. Itulah alasan kenapa sejarah selalu penuh dengan kisah-kisah bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban.

Ketika Saladin masih remaja, dunia Islam terbelah antara Sunni dan Shia. Dan pembelahan ini memiliki implikasi politik yang begitu dalam.

Shia berbasis di Kairo, Mesir. Sunni di Baghdad, Irak. Shia sering juga dikenal dengan nama Dinasti Fatimiah karena mengklaim kekuasaan mereka turun dari anak Fatimah (putri Rasulullah) dan Ali. Sedang Sunni disebut sebagai Abbasiah karena pemimpin-pemimpinnya turun dari Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah.

Masing-masing dipimpin oleh seorang khalifah, yang mana keduanya coba untuk saling melenyapkan satu sama lain.

Pada masa-masa itu pula, dalam Shiah, lahir satu aliran bernama Ismailiah, yang kemudian menelurkan tradisi Asassins. Ya, Assasins, yang kemudian diangkat sebagai tema game di playstation yang biasa kita mainkan hari ini.

Asassin memang merupakan organisasi pembunuh yang sering melenyapkan pemimpin-pemimpin pada masa itu. Bukan hanya orang-orang Sunni, tetapi juga dari kelompok Shiah sendiri. Namun mereka bukan sembarang pembunuh. Mereka merupakan organisasi dengan tradisi keilmuan yang luar biasa. Di markas mereka saja, bahkan terdapat perpustakaan yang menyambut datangnya para ilmuan.

Selain pertentangan dua kekhalifahan ini, raja-raja kecil juga bertempur sesama mereka. Hal itu terjadi, seturut dengan perlahan meredupnya keperkasaan Sunni Abasiah yang diserang Bani Saljuk dari Turki. Tetapi, apapun pertentangan di dalam dunia Islam pada masa itu, mereka semua memiliki rival yang sama: Byzantium.

Musuh dari luar memang selalu menjadi faktor penentu bersatunya unit-unit komunitas yang lebih kecil.

Dan begitu pula Kristen, yang bersatu di bawah semangat melawan muslim untuk merebut kota suci Jerusallem.

***

Beberapa puluh tahun sebelum kelahiran Saladin, orang-orang Turki mulai memeluk Islam. Mereka merebut Nicaea, kota penting Kristen di sebelah timur Turki.

Waktu itu, orang-orang Kristen belum bersatu. Seperti Islam, mereka memiliki masalah sendiri dengan adanya dua aliran Kristen. Kristen Roma dan Kristen di Konstantinopel. Dua aliran yang muncul seturut hadirnya konsep trinitas dalam Kristen. Sementara Paus memiliki kuasa sendiri di Eropa Timur. Di Prancis, Paus bersaing dengan kaisar, para Baron (bangsawan) saling berlawan, dan orang-orang kelaparan.

Keadaan yang kacau itu berakhir ketika Raja Urban II mencanangkan perang melawan orang luar. Pada pertemuan bangsawan Prancis, di hadapan para uskup, kesatria, dan rakyat banyak, ia berpidato mengajak mereka yang selama ini hanya bertempur melawan orang-orang beriman di antara mereka, sebaiknya segera mengarahkan mata pedangnya pada kaum kafir dan barbarian, yang dalam hal ini adalah muslimin.

Ide Raja Urban diterima dengan semangat perang suci. Dan mereka punya satu tujuan, yakni merebut Jerusallem: tempat di mana Yesus berkhotbah, melakukan mukjizat-mukjizat, dan bangkit dari kematian.

Mereka juga yakin, ada True Cross di kota itu.

True Cross merupakan salib yang digunakan untuk menyalib Yesus. Mereka percaya bahwa salib itu dapat mendatangkan keajaiban-keajaiban. Maka, terjadilah Perang Salib Pertama, ketika pasukan salib berhasil merebut Jerusallem dari tangan Turki.

Selain tujuan yang jelas tentang Jerusallem dan True Cross, faktor lain yang membuat Kristen berhasil adalah motivasi untuk menjarah orang-orang Pagan lantaran mereka sendiri pada masa itu demikian melarat, dan untuk semua tindakan itu, mereka akan dikenal sebagai kesatria terhormat yang membela Tuhan.

Jerusallem pun jatuh, Pasukan Salib kemudian mengarahkan mata pedangnya ke Nicaea. Kota Muslim dengan benteng yang kokoh.

Pasukan Salib memiliki Alexios Komnenos, Sang Kaisar Byzantium yang jenius. Ia menciptakan alat pelontar batu bernama Trebuchets yang mampu merubuhkan kekokohan tembok Nicaea. Setelah kemenangannya, adab perang Eropa menciptakan kebrutalan di kota itu. Teman-teman dapat membacanya sendiri di buku John Man ini, dan rekaman keberingasan mereka tidak datang dari sumber muslim, melainkan dari kronik mereka sendiri.

Lalu apa yang kaum muslim dapat lakukan?

Tak ada. Tak ada figur pemimpin, sementara kebencian dan rasa putus asa tak kan menghasilkan apa-apa.

Ketika Saladin lahir, kebencian terhadap orang Kristen mulai memudar. Pernikahan-pernikahan dengan golongan bangsawan setempat telah membaurkan semuanya. Dan yang lebih penting, kaum Muslim telah nyaris kehilangan harapan adanya sosok yang bakal mengembalikan apa yang telah terebut dari mereka.

***

Hari ini, banyak di antara kaum muslim –termasuk saya, memandang bahwa tiap-tiap tokoh hebat dalam sejarah Islam hadir di bumi sebagai titisan Allah. Mereka besar karena sejak awal telah ditakdirkan sebagai orang besar. Mereka memenangkan perang karena ada ribuan malaikat yang membantu di garis depan. Mereka menang karena Allah telah berkehendak.

Dan beragam anggapan serupa yang dapat kita pandang dengan sinis sebagai satu rasa putus asa saking merosotnya kebudayaan kita.

Sesungguhnya, yang luput dari itu semua adalah tinjauan rasional-empirik mengenai proses munculnya tokoh-tokoh tersebut dalam sejarah.

Mereka tidak lahir dan berdiri sendiri. Mereka menjadi besar sebab telah melalui tempaan luar biasa yang menjadi tantangan zaman itu.

Hari ini, ketika di media sosial priviledge dianggap sebagai dosa dan aib. Tanpa sadar kita digiring untuk melupakan elemen-elemen seperti modal sosial dalam pembentukan kualitas pribadi. Kita, diam-diam mulai berhalusinasi bahwa kita tidak butuh bimbingan yang tepat, di tempat yang tepat, dari orang yang tepat, dengan fasilitas yang memadai untuk dapat membawa satu perubahan.

Dan Saladin, tokoh yang nyaris jadi legenda dalam dunia Islam itu, adalah orang yang lahir dan besar dengan modal sosial yang cukup untuk membuatnya jadi tokoh besar seperti sekarang.

Ia lahir di Tirkit, Irak sekarang. Ayahnya adalah Gubernur di kota itu.

Pada tahun 1130, pecah perang sipil. Muncul tokoh bernama Zangi Imaduddin, seorang tokoh yang pada saat itu memiliki keinginan kuat untuk mengusir Pasukan Salib dari Jerusallem.

Tahun 1132, pecah pertempuran di dekat Tirkit. Zangi kalah di sana dan coba melarikan diri. Ayah Saladinlah (ayah Saladin bernama Ayyub) yang menyelamatkan Zangi ketika terluka.

Enam tahun kemudian, Zangi datang menggempur Baalbek dengan senjata catapult dan berhasil menundukkan kota itu. Setelahnya, ia mengangkat Ayyub, ayah Saladin, sebagai Gubernur Baalbek. Sementara Shirkuh jadi staf militer di Aleppo, dan segera menjadi jenderal terpercaya Zangi.

Tunggu, siapa Shirkuh? Ia adalah adik Ayyub, yang artinya merupakan paman Saladin.

Setelah menduduki Baalbek, Zangi merebut kota Edessa dari tangan Kristen. Dalam pertempuran ini, lebih dari lima ribu orang tewas terbakar sebab pemimpin kota itu memerintahkan penduduknya untuk mengunci diri di dalam rumah, dan hanya boleh keluar setelah mendapat perintah dari pimpinan.

Namun, perintah untuk membuka pintu tak kunjung datang. Dua tahun setelah merebut Edessa, petualangan Zangi harus berakhir. Ia tewas ditikam oleh seorang budaknya.

Peta politik berubah, posisi Zangi diganti oleh seorang bernama Unar yang memaksa Ayyub, ayah Saladin untuk menyerahkan Baalbek. Ayyub memahami posisinya, maka ia memutuskan pergi ke daerah pinggiran dekat Damaskus bersama keluarganya, termasuk Saladin.

***

Almarhum Zangi memiliki tiga orang putra: Sayf Al-Din, Qutb, dan Nur al-Din.

Di antara ketiganya, Nur al-Din dianggap sebagai yang paling banyak mewarisi keutamaan ayahnya, dan untuk itulah ia kemudian mewarisi tekad sang ayah untuk mendirikan negara Sunni dan merebut Jerusallem.

Ia selalu membawa makanan dan pakaiannya sendiri, coba menerapkan hukum Islam tanpa menjadi fanatik, selalu berada di garis depan dalam pertempuran, dan mempraktikan pernikahan politik di mana ia meminang putri Gubernur Edessa demi mencegah kembalinya pengaruh Kristen. Kualitas-kualitas kepemimpinan yang menjadi tauladan pada masa itu, termasuk bagi Saladin.

Dan Shirkuh, paman Saladin yang dulu menjadi jenderal andalan Zangi, kini juga menjadi tangan kanan Nur al-Din.

Tak lama setelah itu, Nur al-Din berhasil menaklukkan Antioch. Tak lama berselang, Unar meninggal sehingga Damaskus kehilangan patron. Kota itu segera dikuasai oleh kelompok pemuda yang memperkuat posisinya dengan coba meminta bantuan pasukan Kristen.

Pada kesempatan itulah, Nur al-Din membuktikan kepemimpinannya. Ia merancang intrik politik yang mampu mengusir pimpinan para pemuda di sana beserta sekutu Kristennya, lalu secara bersamaan berhasil menjadi pemimpin yang disayangi warga Damaskus.

Tapi mengapa Damaskus menjadi penting?

Kota itu merupakan tempat pertama di luar Saudi yang direbut penerus Muhammad untuk mengamankan wilayah garis depan Islam yang berhadapan dengan Byzantium.

Di sekitar situ pula, terdapat gunung Qasiyoun yang agung. Pemukiman pertama umat manusia setelah Adam diturunkan ke bumi, tempat Qabil membunuh Habil, dan tempat di mana pemuda Ashabul-Kahfi tertidur selama berabad-abad.

Di sebelah selatan Damaskus, terdapat gunung api yang tak lagi aktif. Kota itu di kelilingi pula sungai, desa, kanal, kebun buah, dan ladang. Di tengah-tengahnya, terdapat masjid Bani Umayyah, juga tanah lapang di mana orang-orang Pagan melakukan peribadatan dan sebagainya.

Sebagai simbol, Damaskus tak ubahnya kota suci ke empat setelah Mekah, Madinah, dan Jerusallem. Dalam politik, posisinya sangat vital untuk menjaga perbatasan wilayah Islam dan Byzantium. Secara ekonomi, kota ini memiliki sumber dayanya sendiri.

Namun, hadir satu pertanyaan, “Apakah pada masa itu, dunia Islam dan Kristen yang secara politik saling bermusuhan, benar-benar merupakan dua hal yang terpisah?”

Orang Turki, Arab, Eropa, memang bermusuhan secara politik, tetapi informasi dan kebudayaan di antara mereka mengalir dan bertukar melalui kontak-kontak yang terjadi. Tentu, belum ada Twitter pada masa itu, tetapi orang-orang telah melakukan pengiriman surat melalui merpati. Menukarkan kabar dari satu tempat ke tempat lain.

Di tiap-tiap kota, terdapat lembaga semacam kedutaan besar, putra-putri bangsawan menikah satu sama lain demi menjaga kemurnian darah dan tatanan sosial. Para peziarah berjalan dari satu masjid ke masjid yang lain, dari gereja yang satu ke gereja yang lain, dari kota Islam ke kota Kristen yang lain. Budak-budak dijual dan dibeli, tawanan-tawanan perang ditahan, dipertukarkan, dan dibebaskan.

Kebudayaan, bahkan pada masa itu, tak pernah berdiri sendiri. Setidak-tidaknya, pada titik tertentu, kita dapat mengatakan bahwa globalisasi bukan sesuatu yang terjadi baru-baru ini. Namun, kebudayan yang membaur tidak serta-merta meleburkan struktur. Itulah alasan mengapa spektrum politik tetap eksis dan menuntut kedaulatan versi mereka masing-masing.

Mengharapkan dunia tanpa perang tak ubahnya mimpi siang bolong. Persis seperti kita memuji-muji humanisme sembari menyaksikan negeri yang menyodorkan nilai-nilai itu menginjak-nginjak apa yang dikemasnya tersebut dalam berbagai percaturan politik. Rasa kemanusiaan yang halus dan inkapabilitas politik kadang batasnya demikian samar dan tipis.

***

Kita masih bisa bercerita banyak tentang bagaimana Saladin dikader oleh Nur al-Din dan Shirkuh. Bagaimana Ayyub dan keluarga besarnya mendukung Saladin. Kita dapat bercerita banyak mengenai takdir Saladin ketika berhasil memasuki Mesir dan menjadi pemimpin di sana.

Tentang adegan dramatis ketika kekuasaan Shiah di Mesir terguling oleh Sunni yang dibawa Saladin, sementara secara ironi yang melantik Saladin sebagai perdana mentri Mesir adalah Khalifah dari Dinasti Shiah Fatimiah.

Dan cerita masih teramat panjang untuk sampai pada titik di mana Saladin pada akhirnya berhasil merebut Jerusallem dari Pasukan Salib. Sampai di mana batas-batas kebijaksanaan Saladin dalam perang, tawaran-tawaran dalam negosiasi yang dibuat Balian, bagaimana kegilaan petarung-petarung Kristen seperti Reynald de Chatilon, bagaimana hebat dan terhormatnya Richard The Lion Heart. Dan semua kesedihan, kepayahan, penderitaan, kejayaan, dan kebahagiaan yang menyertai pertempuran-pertempuran itu.

Namun, bukan di sini tempatnya. Teman-teman dapat membaca karya John Man ini.

Sebuah biografi yang ditulis secara apik, dengan pendekatan, gaya tulisan, serta cara bertutur yang benar-benar mampu menyerap pembaca untuk meresapi keadaan zaman sembilan ratus tahun silam. John Man membuat biografi bukan sekadar wisata sejarah, tetapi menjadi semacam titik berangkat untuk menghadirkan satu bentuk historiografi yang serius, tanpa kehilangan warnanya sendiri.

Dari buku ini pula, saya kemudian mulai menyadari, bahwa saya, yang selalu merasa bangga dengan sikap sinis terhadap agama saya sendiri, benar-benar kurang mengenal apa yang saya miliki.

Maka, inilah pekerjaan rumah bagi mereka yang bergiat dalam kajian historiografi Islam –juga termasuk mereka yang berprofesi sebagai juru dakwah. Untuk tidak sekadar mengeksploitasi mukjizat dan keajaiban Tuhan, tetapi mulai berpikir untuk melihat dan menyerbakan nilai-nilai kedisiplinan dan etika  dalam agama yang diterapkan oleh para pembesar kita dahulu.

Pernah, pada suatu masa, Islam diterima dengan tangan terbuka karena para pemimpinnya menunjukkan sikap terhormat dan kebijaksanaan, yang tahu etika perang dan pertempuran, yang rasanya, tak lagi kita miliki hari ini.

Bahwa kemenangan tidak hanya datang dari doa dan keyakinan buta. Sebab Saladin, bahkan juga Nabi, berperang dengan memakai baju zirah terbaik, pedang terbaik, kuda terbaik, dan didampingi orang-orang dengan kualiltas iman, fisik, politik, dan materi yang mumpuni sebagai jenderal perang, baru setelah itu mereka menyerahkan nyawa pada Tuhan. Segala hal yang tidak pernah disebutkan –apalagi dijelaskan lebih detail secara rasional dalam pelajaran agama, baik di sekolah maupun di rumah-rumah.

Kita kadang dengan sinis memandang sejarah akan pertempuran-pertempuran di mana kaum muslim begitu sedikit jumlahnya melawan pasukan-pasukan berjumlah lebih besar, tetapi kita sering termotivasi dengan kata-kata Sukarno tentang sepuluh pemuda yang mampu mengguncang dunia.

Jumlah memang sering jadi faktor penentu. Tetapi keteguhan tekad, kedisiplinan, dan keberanian untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai dengan semurni-murni keyakinan, juga merupakan faktor lain yang tak kalah krusialnya. Kematian itu urusan Tuhan, tetapi kita bisa selalu memilih untuk hidup dengan mulia atau tidak.

Apapun afiliasi politik, ideologi, atau cita-cita kita, dunia tidak berubah hanya dengan mukjizat. Kita bukan Nabi. Kita hanya manusia biasa yang mesti menunjukkan kesungguhan atas sesuatu agar Tuhan yang Maha Pemurah membaeri kita keajaiban untuk mewujudkannya.[*]

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *