Syahbandar Tuban Membalikkan Arus

Resensi Arus Balik

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Hasta Mitra, Jakarta

Tahun Terbit: 1995

“Sejarah dan sastra adalah dua hal berbeda.” Demikian Kuntowijoyo menggariskan. Bagi saya, apa yang dikatakan Kuntowijoyo ini adalah suluh yang cukup terang untuk digunakan ketika membaca karya-karya sastra, terutama berupa romann-sejarah seperti yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

Daya imajinasi dalam karya-karyanya seringkali menghadirkan semacam interpretasi alternatif terhadap suatu peristiwa tertentu yang dalam buku-buku sejarah dibahas dengan begitu datar dan kering.

Tetralogi Buru, misalnya, kita seolah-olah sedang membaca sejarah Indonesia pada masa pergerakan. Tak heran jika karya ini sering disandingkan dengan karya Ricklefs sebagai bahan ajar dalam Sejarah Indonesia 1900-1942 di Departemen Ilmu Sejarah pada satu universitas tertentu.

Beberapa orang mengatakan kalau Pramoedya menguasai benar kisah-kisah mengenai zaman yang dijadikan latar karya-karyanya. Saya kira, penguasaan itu tak lain merupakan hasil dari kerja-kerja riset yang panjang dan telaten.

Tak bisa lain, Pramoedya pasti melakukan heuristik –menelusuri, membaca, dan memahami arsip-arsip tertentu sebelum menuangkannya dalam roman semacam itu.

Saya belum pernah membaca literatur yang secara mendalam membahas proses berkarya seorang Pramoedya. Paling sedikit ialah cerita kalau ia menuliskan karyanya dalam penjara.

Mampu menghasilkan karya sebesar itu dalam penjara akibat tekanan rezim bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi ketika dijebloskan ke penjara, Pramoedya tidak membawa selembar pun arsipnya.

Sementara membangun roman-sejarah memerlukan kehati-hatian dan ketelitian luar biasa. Deskripsi pakaian, gaya hidup, dan gaya bahasa berdasarkan bangsa dan kelas sosial mesti diperhatikan, termasuk di dalamnya ialah deskripsi isyarat dan gerak tubuh, serta yang bersesuaian dengan konteks sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan yang menjadi latar roman tersebut.

Ketelitian akan detail seperti disebut di atas itu juga nampak pada karyanya berjudul Arus Balik –satu novel yang berkisah mengenai awal kedatangan Eropa di Nusantara.

Joesoef Ishak, selaku editor yang memberi pengantar (atau sambutan?) pada bagian depan karangan itu mengatakan kalau ada yang menganggap Arus Balik lebih besar daripada karya-karya Pramoedya sebelumnya, termasuk Tetralogi Buru.

Arus Balik bahkan disebut sebagai “literatur maritim Nusantara”, maka tak heran jika semasa kuliah, beberapa pengajar menganjurkan pembacaan atas karya ini sebagai pengantar kajian maritim. Kendati pembahasan secara kritis terhadap Arus Balik –termasuk dalam kuliah-kuliah itu belum banyak dilakukan.

Bagi saya, bagian paling penting dari karya ini ialah gambaran mengenai proses konsolidasi politik kota-kota pantai di Nusantara yang mandiri pasca keruntuhan Majapahit dan menyusul kejatuhan Malak ke tangan Portugis. Pada dua momentum itulah Pramoedya memulai kisah dalam Arus Balik.

Pramoedya mengirimkan seorang Syahbandar Malaka yang digambarkan berpihak pada Portugis daripada Sultan Malaka sendiri. Penghianatan itulah yang dalam karya ini menjadi faktor utama jatuhnya bandar tersebut.

Setelah Malaka diduduki Portugis dan Sultan Mahmud Syah mengungsikan diri sampai ke Negeri Kampar, Syahbandar itu datang ke Tuban –suatu kota pelabuhan terakhir yang masih menganggap dirinya pewaris Majapahit.

Tokoh Syahbandar ini memiliki tiga nama. Ia lahir di Andalusia sebagai Tholib Sungkar Az-Zubaid, di Malaka ia bernama Sayid Mahmud Al-Badaiwi, dan setelah pindah ke Tuban namanya berubah menjadi Sayid Habibullah Al-Mawasa. Pada Adipati Tuban, ia mengaku sebagai keturunan keempatpuluh Nabi Muhammad SAW sehingga ia beragama Islam.

Selain Arab dan Melayu, Tholib Sungkar Az-Zubaid pandai berbahasa Portugis dan Spanyol. Kemampuan inilah yang membuatnya dengan mudah merebut jabatan syahbandar Tuban dan segera jadi kepercayaan Adipati.

Adipati Tuban berharap kemampuan Syahbandar barunya itu mampu mendatangkan Portugis ke Tuban, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai mitra dagang. Harapan yang terus ia pegang bahkan ketika seorang utusan Sultan Mahmud Syah datang ke Tuban hendak menangkap Tholib Sungkar dan memperingatkan Adipati Tuban mengenai jati diri Syahbandar barunya.

Adipati Tuban menepis peringatan itu dan melindungi Syahbandarnya. Tetapi harapan yang demikian tinggi membuatnya buta, tak mampu melihat bahwa Tholib Sungkar Az-Zubaid adalah duri dalam daging Negeri Tuban. Posisinya sebagai syahbandar ia gunakan untuk menghancurkan Tuban dari dalam agar kelak Portugis dapat masuk menduduki negeri itu tanpa perlawanan berarti.

Namun, semua upaya Tholib Sungkar itu tida membuahkan hasil sebagaimana yang ia angani. Tokoh utama, Galeng, mampu membereskan kekacauan yang dibuat Tholib Sungkar dengan memenangkan pertempuran demi pertempuran.

Tokoh utama kita ini adalah seorang pegulat tiada tanding seantero Tuban. Ia hanya seorang anak desa biasa, bukan bangsawan. Tetapi keperkasaannya membuat Adipati mengangkatnya sebagai seorang Syahbandar-Muda Tuban. Ketika Adipati Unus dari Demak hendak menyerang Portugis di Malaka, Galeng didapuk sebagai Kepala Pasukan Laut Tuban.

Saat pecah pemberontakan Sunan Rajeg, ia membunuh Patih Tuban yang sudah kehilangan kepercayaan pada Adipati. Dan setelah itu mendaulat dirinya sendiri sebagai Senapati. Ia memimpin perang dan berhasil menumpas gerakan Sunan Rajeg.

Kejayaannya itu membuat para pemimpin pasukan perang lain seperti Kala Cuwil, Braja, Bateng Wareng, dan Rangkum mengakui kemampuan memimpin Galeng si anak desa dalam pertempuran. Timbul anggapan umum yang menyanding-nyandingkan Galeng dengan sosok Gajah Mada –Patih Majapahit yang juga datang dari golongan orang biasa.

Malang, langkahnya untuk melindungi Tuban itu tidak berterima bagi sang Adipati. Bagaimana mungkin seorang anak desa berani menumpahkan darah seorang bangsawan lalu mengangkat diri sebagai Senapati? Setelah kecamuk berakhir, Adipati malah lebih dekat dengan Syahbandarnya –yang tak ia tahu merupakan dalang dibalik pemberontakan Sunan Rajeg sendiri.

Begitu pula Idayu, dewi tari Tuban –pacar Galeng, yang kemudian menjadi istrinya. Ia tak ingin suaminya menjadi Senapati. Sebab sewaktu muda, ia dan Galeng telah memimpikan membangun rumah tangga di sebuah huma dekat hutan, hidup sederhana sebagai petani.

Tetapi ketangkasan Galeng dan keanggunan Idayu membuat takdir berkata lain. Suka atau tidak, mereka terseret ke dalam intrik dan pergolakan politik istana Tuban.

Kendati demikian, jika kita memperhatikan dengan seksama porsi, posisi, atau bahkan hubungan antara tokoh dalam roman ini. Kita akan melihat bahwa baik Galeng maupun Idayu –sebagai tokoh utama, tidak memiliki peran sekuat sang antagonis, Tholib Sungkar Az-Zubaid.

Tokoh Syahbandar terasa lebih determinan pada keseluruhan alur cerita ini. Perhatikan posisinya dalam kejatuhkan Malaka dan mengubah peta politik Nusantara bagi Pramoedya.

Ia bahkan cenderung lebih berperan daripada Patih dan Adipati Tuban terkait langkah-langkah politik Tuban. Bagi Portugis, Tholib Sungkar Az-Zubaid ini adalah orang penting. Bahkan setelah ketahuan membunuh orang Portugis sendiri, Pramoedya masih menyelamatkan tokoh ini.

Lebih dari itu, Pramoedya secara kejam membiarkan Syahbandar ini mengobrak-abrik kehormatan rumah tangga Galeng dan Idayu –sang tokoh utama yang sangat dimuliakan masyarakat Tuban.

Ceritanya, suatu hari, ketika Galeng masih menjabat sebagai Syahbandar-Muda, ia ditugaskan pergi ke sekitar Yuana, Bandar Tuban paling barat setelah Jepara jatuh ke tangan Demak. Saat itulah, hampir setiap malam Syahbandar Tuban membius Idayu dan memperkosanya hingga hamil.

Lahirlah seorang anak lelaki bernama Gelar dari Idayu. Perawakannya begitu mirip dengan Tuan Syahbandar. Yakin bahwa dirinya telah diperkosa, Idayu merasa tidak mampu menjaga kehormatan suaminya.

Menghadaplah ia pada Galeng yang telah kembali dari tugas, melepas cundrik dari sarungnya dan gagangnya ia genggamkan pada tangan Galeng dengan mata pisau menghadap diri sendiri. Ia memilih mati di tangan suaminya.

Tetapi Pramoedya tak mengehendaki Idayu mati. Ia buat Galeng membuang cundrik itu ketika Idayu menikamkan diri. Maka sepanjang cerita, kita berharap Galenglah yang akan menghabisi sendiri nyawa Syahbandar bejat itu.

Namun Adipati telah bertitah agar apapun yang terjadi keselamatan jiwa Syahbandar harus terjamin. Pendeknya, Adipati sendiri tak mampu meneguhkan adat Tuban mengenai kehormatan rakyatnya yang perempuan. Ia lebih memilih Portugis.

Syahbandar itu baru mati pada akhir cerita. Ketika dewasa, Gelar sendirilah yang menghabisi ayahnya. Ia benci pada kenyataan bahwa ayahnya bukanlah Galeng, bahwa ia adalah bayi yang pernah membuat ibunya sendiri nyaris bunuh diri lantaran malu, bahwa ayahnya –Syahbandar Tuban itu tak lain adalah penghianat yang telah menjual Tuban pada Portugis.

Ketika Tuban dikuasai Portugis, Gelar ditugaskan masuk ke dalam Tuban untuk memata-matai aktifitas Portugis di sana. Pada kesempatan itulah ia memecahkan batok kepala Syahbandar Tuban dengan sebilah tongkat.

Dan terima kasih pada Pramoedya yang malah membuat Gelar sempat dikutuk ibunya dan Galeng, serta seluruh masyarakat Tuban penganut ajaran Hyang Widhi. Tindakan membunuh ayah kandung, betapapun bejatnya ia, tidak berterima dalam ajaran Hyang Widhi.

Cerita berakhir dengan memperlihatkan Gelar terasing hingga ke Banda akibat putusannya untuk mencabut nyawa Syahbandar.

Dasar pemikiran itulah yang membuat saya cenderung melihat bahwa kuatnya posisi Tholib Sungkar Az-Zubaid dalam roman ini dapat menjadi titik berangkat untuk mempelajari latar sejarah seputar peralihan zaman pada abad XVI melalui karya-karya sejarah terkait tema serupa. Salah satu pertanyaan yang kiranya cukup relevan ialah,

“Sungguhkah birokrasi di Malaka demikian sederhana sehingga seorang syahbandar dapat dengan mudah menusuk Sultan dari belakang?”

Dalam laporannya kepada Raja Portugis, Tome Pires menjelaskan bahwa Malaka dipimpin oleh seorang Sultan. Lalu di bawahnya terdapat Bendahara dan Laksamana. Bendahara berwenang terhadap semua urusan yang terkait dengan sipil dan kriminal. Ia dapat menjatuhkan hukuman mati pada seorang, baik itu seorang rakyat biasa maupun pada bangsawan.

Tentu, setelah memberitahu Sultan dan membicarakannya dengan Laksamana dan Tumenggung. Sementara Laksamana adalah pemimpin angkatan laut sekaligus penjaga Sultan. Semua prajurit, termasuk orang-orang Cina, berada di bawah kewenangannya.

Tumenggung sendiri dapat dikatakan sebagai seorang hakim. Sebelum suatu kasus sampai ke Bendahara, ialah terlebih dahulu yang mengetahui perkara-perkara kriminal dan mengenai putusan untuk para tahanan.

Di bawah ketiga orang inilah baru terdapat posisi Syahbandar. Tetapi di Malaka, syahbandar tidak sendirian. Terdapat empat syahbandar di sana, masing-masing mewakili urusan-urusan pedagang yang berasal dari negeri-negeri tertentu.

Pertama adalah Syahbandar Gujarat sebagai syahbandar yang paling penting. Kemudian ada pula Syahbandar Bunuaqujlim, yang mengurusi juga pedagang dari Bengali, Pegu, dan Pasai. Lalu Syahbandar yang mengurusi orang-orang Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Tanjungpura, dan Luzos. Terakhir ada Syahbandar untuk pedagang Cina, Lequeos, Chancheo, dan Campa.

Para Syahbandar ini bertugas untuk menerima tiap kapten kapal dan membawanya bertemu Bendahara. Lalu setelah itu menunjukkan gudang dan membongkar muatan mereka, serta menyediakan loji. Dan yang sedikit berkaitan dengan Arus Balik dalah kewenangan mereka untuk mengakses gajah. Kira-kira sebagai syahbandar manakah Tholib Sungkar Az-Zubaid duduk di Malaka?

Apakah para syahbandar di Malaka memiliki keluwesan untuk mengurusi politik dalam negeri seperti kuatnya posisi Tholib Sungkar Az-Zubaid di Tuban?

Hal ini belum dapat dipastikan, namun dari laporan Tome Pires nampak bahwa mereka hanya mengurusi hal-hal teknis terkait datangnya para pedagang. Sementara, para Kapten yang baru berlabuh langsung dibawa pada Bendahara. Dalam pertemuannya dengan Bendaharalah, upaya-upaya diplomasi sebuah bangsa yang datang berdagang ke Malaka baru dibicarakan.

Hal penting yang perlu dicatat juga ialah riwayat karir Tholib Sungkar Az-Zubaid sebagai Syahbandar Malaka. Ia berhasil menjabat sebagai Syahbandar setelah menggantikan seorang yang sebelumnya berasal dari Bengali (Kakak Rangga Iskak, mantan Syahbandar Tuban yang juga berasal dari Bengali).

Padahal jika memang ia demikian penting di Malaka, seharusnya ia tak perlu menggantikan Syahbandar Bengali, melainkan Syahbandar Gujarat sebab merupakan yang paling penting di antara empat Syahbandar Malaka.

Namun, jika Tholib Sungkar Az-Zubaid menjadi Syahbandar Gujarat, cerita akan menjadi lebih tidak masuk akal. Sebab, ketika Alfonso de Alberquerque hendak menyerang Malaka, terdapat dua kubu di bandar itu: mereka yang mendukung perang dan mereka yang menentang perang.

Berdasarkan catatan Tome Pires itu, Bendahara dan Laksamana adalah orang yang mendukung konsolidasi jalan damai. Sementara di pihak yang mendukung perang adalah putra mahkota, Tuan Banda, Tuan Mafamut, Utamuttaraja (saya belum mengetahui posisi ketiga orang ini dalam struktur pemerintahan Malaka) dan putranya yang bernama Pate Acoo, orang Jawa dan Gujarat, serta para bangsawan yang menolak Malaka jatuh ke tangan kafir sebagaimana yang terjadi pada Goa di India.

Kejatuhan Goa adalah alasan utama orang-orang Gujarat di Malaka menghendaki perang dengan Portugis.

Dari sini kita jelas melihat, bahwa posisi Tholib Sungkar Az-Zubaid di Malaka tidak akan begitu dominan seperti di Tuban. Tapi bagaimana ia dapat menghianati Malaka jika perannya tidak begitu besar? Hanya Pramoedya dan imajinasinya yang tahu.

Kita tentu berharap ada kajian mengenai sejarah Malaka yang membahas proses kejatuhan bandar tersebut. Bagaimana konflik-konflik politik dan lain sebagainya.

Hal serupa juga berlaku pada sejarah Tuban. Jangan sampai posisi Syahbandar tidak begitu kuat di Tuban sampai ia dapat sekehendak hati keluar-masuk ke Kadipaten.

Penelusuran lebih jauh amatlah diperlukan, bukan saja untuk memahami Arus Balik sebagai karya sastra, tetapi untuk memahami sejarah ekonomi dan politik jelang masuknya zaman baru setelah kejatuhan malaka.

Sebab, bukankah ini sesungguhnya angan-angan aliran realisme sosialis dalam sastra yang dianut Pramoedya? Agar karya-karyanya memiliki implikasi sosial, agar pembacanya terus belajar. Tidak berhenti pada kutipan-kutipan liris tentang senja dan kopi dengan pembaca merasa jadi orang paling merana di dunia.[*]

***

Keterangan:

Tulisan ini pertama kali tayang di sebuah blog pribadi penulis di platform medium.com, dengan nama akun ‘Djamak’. Berjudul ‘Dari Mana Datangnya Orang Sejahat Itu?’

Bacaan Pendukung:

Armando Cortesao (ed.), The Suma Oriental of Tome Pires: an Account of The East, From The Red Sea to China, Written in Malacca and India in 1512-1515, And The Book of Francisco Rodrigues: Pilot Major if The Armada That Discovered Banda and Moluccas Rutter of a Voyages in The Red Sea, Nautical Rules, Almanack and Maps, Written and Drawn in the East before 1515. Volume II. New Delhi – Chennai: Asian Eduactional Services: 2005.

erikfathul Written by:

Alumnus Ilmu Sejarah Unhas. Sedang melanjutkan studi magister pada bidang yang sama di Universitas Indonesia, Depok.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *